slogan leutika prio

Achmad Sjamsudin

Achmad SjamsudinE-Mail: achmadsjamsudin[aT]yahoo.co.id

Deskripsi penulis: karena sudah saya buat [panjang lagi!], dan sudah saya sertakan dalam naskah. Sekaligus foto diri saya.




Daftar Buku

Jumlah buku:6

1. Syukur Kaya Bahagia
Syukur Kaya BahagiaDalam kehidupan sehari-hari, kita masih banyak mengeluh sedikit bersyukur. Sebagai “orang gajian”, kita kadang mengeluhkan gaji bulanan kita yang tiba-tiba habis. Kita juga mengeluhkan gaji bulanan kita yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mengeluh seperti itu tidak boleh karena kita akan lupa pada nikmat Allah. Apabila kita mengeluh karena gaji kita tiba-tiba habis maka itu berarti kita lupa pada apa yang sudah kita perbuat dengan gaji kita. Di satu sisi, kita mengeluhkan ga

2. Bahagianya Tuh di Syukur
Bahagianya Tuh di SyukurBahagia oh bahagia, di manakah dirimu? Di harta yang banyak? Tidak, karena orang yang sudah mempunyai harta banyak merasa tidak bahagia. Atau di rumah mewah? Tidak juga, karena masih ada yang tidak bisa merasakan telah mempunyai rumah mewah. Lalu, di manakah kebahagiaan itu berada? Bahagia oh bahagia, ternyata kamu ada di syukur. Buku Bahagianya Tuh di Syukur ini ingin menunjukkan tempat kebahagiaan. Buku ini terbit juga untuk membagikan pengalaman penulisnya yang telah menemukan sekaligu

3. Ramadanan Sepanjang Tahun
Ramadanan Sepanjang TahunRamadan sudah pergi. Suasana menjadi sepi. Pemandangan berbondong-bondongnya kita ke masjid untuk shalat Isya dan tarawih tidak terlihat lagi. Bacaan-bacaan Alquran juga sudah tidak terdengar lagi. Begitu keluar Ramadan, seakan sudah mulai ada penurunan di sana sini. “Seandainya umatku tahu keistimewaan yang terdapat di bulan Ramadan, niscaya mereka berharap setahun itu seluruhnya Ramadan”. Hadis Nabi ini bisa dijadikan motivasi supaya kita tetap rajin beribadah dan tetap mengendalikan diri. Bagaimana caranya? Kita berusaha menjadikan sepanjang tahun seperti Ramadan. Karena Ramadan identik dengan puasa, maka kalau kita ingin setahun itu seperti Ramadan, ya kita harus berpuasa juga, yakni berpuasa sunnah yang sudah tersedia di dalam ajaran agama kita. Tinggal pilih saja: puasa Senin-Kamis; puasa Dawud; puasa ayyamul bidh; puasa Muharram, Arafah, Rajab, Sya’ban, atau Syawal. Dengan berpuasa sunnah, kita akan merasakan kembali atmosfir Ramadan. Di dalam puasa sunnah ada makan sahur, shalat malam, serta rasa lapar dan haus. Dengan berpuasa sunnah, semangat ibadah akan kembali normal. Dan dengan berpuasa sunnah, kontrol diri yang sudah mulai lepas bisa dijaga lagi. ‘Ramadanan Sepanjang Tahun’ hakikatnya adalah melestarikan amaliyah yang pernah dikerjakan di bulan Ramadan. Dengan begitu, amaliyah Ramadan tidak berhenti begitu Ramadan berlalu. Secara hakiki, tidak ada bedanya antara Ramadan dan bulan lainnya dalam setahun. Apabila kita bisa tetap beribadah sepeninggal Ramadan, maka memang Ramadan itu sepanjang tahun...

4. Digembleng Umrah
Digembleng UmrahUmrah telah menggembleng penulis buku ini. Mulai sebelum berangkat, waktu di perjalanan, selama di Madinah dan Makkah, sampai ketika pulang dari umrah. Gemblengan-gemblengan itu lalu dicatat di buku harian. Kemudian, catatan-catatan harian yang berisi gemblengan-gemblengan umrah tadi dikembangkan menjadi tulisan-tulisan pendek seperti halnya kisah perjalanan. Maka, jadilah sebuah buku berjudul Digembleng Umrah. Buku Digembleng Umrah ini adalah sebagai upaya menuliskan cerita-cerita sepulang umrah yang biasanya sering disampaikan secara lisan oleh orang yang baru pulang dari ibadah umrah atau haji ketika dikunjungi para tetangga. Nah, penyampaian cerita sepulang umrah dalam bentuk buku dimaksudkan supaya “masa berlaku” cerita umrah tersebut lebih tahan lama dan wilayah jangkauannya juga supaya lebih luas. *** “Saat saya membimbing jemaah umrah Hikmah Jaya Wisata dan Mitra Mandiri, Maret 2013, ternyata lahir sebuah buku. Ya, buku ini yang merupakan kisah perjalanan seorang Achmad Sjamsudin digembleng spiritual saat umrah. Semoga isi buku ini bermanfaat dan barakah. Amin.” Drs H Djunaidi Syakur, Rais Syuriyah MWCNU Sawahan, Surabaya “Saya belum pernah umrah atau haji, tapi setelah baca buku ini seolah-olah saya sedang berjalan-jalan di sana. Gaya bertutur dilengkapi foto-foto, membuat saya semakin terhanyut...” Alik Al Adhim, Program Director SAS FM “Bagus dan lengkap, bener-bener bisa memberikan gambaran tentang ngapain aja sih selama 10 hari umrah. Cocok dibaca oleh yang mau umrah, terutama umrah pertama kali. Kereeeen...” dr. Erni Indriati, Dokter Praktek Swasta dan D

5. Dapat Apa Dari Puasa: Sebuah Renungan Tentang Hakikat dan Tujuan Puasa
Dapat Apa Dari Puasa: Sebuah Renungan Tentang Hakikat dan Tujuan Puasa”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183) Bulan Ramadhan sudah datang lagi. Satu hal yang perlu dicamkan, hendaknya kita tidak terjebak pada rutinitas kedatangannya. Kita harus mulai menghayati apa kira-kira maksud kegiatan yang kelihatannya sepele seperti tidak makan dan tidak minum itu, serta bagaimana hubungan puasa dengan taqwallah itu bisa dijelaskan. Buku Dapat Apa Dari Puasa ini bermaksud untuk menyuguhkan sebuah renungan tentang hakikat dan tujuan puasa. Puasa sebenarnya adalah media pelatihan pengendalian diri (self control training). Jika puasa sudah dilakukan dengan benar, maka puasa akan memberikan pengaruh yang begitu dahsyat, yaitu latihan untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Itu berarti puasa membentuk mental taqwallah yang tinggi. Hal itu disebabkan karena selama menjalankan ibadah puasa, seseorang memang dilatih untuk bertaqwa. Ketika orang yang berpuasa sudah bisa melaksanakan ketentuan-ketentuan di dalam puasa, maka puasa akan menjadi sebab munculnya taqwa di dalam diri orang yang berpuasa itu. Inilah yang dimaksudkan ‘taqwa sebagai tujuan puasa’ dalam QS. Al-Baqarah Ayat 183. Istilahnya, taqwa itu jugalah sebenarnya yang didapat dari puasa... *** “Puasa yang selama ini dipahami hanya ritual saja, maka dengan membaca buku karya Achmad Sjamsudin ini kita akan tahu hakikat dan manfaat puasa.” KH Abdurrahman Navis Lc MHI, Ketua Bidang Fatwa MUI Jawa Timur


Sebelumnya [1] [2] Selanjutnya
Leutika Leutika 

Wayang  Scanie  mahoni