slogan leutika prio

E. Sulistialie

E. SulistialieE-Mail: ely.sulistialie27[aT]gmail.com

Elyani Sulistialie. Pustakawan Observatorium Bosscha FMIPA ITB sejak tahun 1994. Tinggal di Komplek Observatorium Bosscha Lembang. Menyusul buku pertamanya “Reading at Bosscha Village” ia bergerilya mengumpulkan tulisan dari rekan-rekan pustakawan ITB. Ia menjadi editor dan menerjemahkan tulisan tersebut ke dalam bahasa Inggris.




Daftar Buku

Jumlah buku:2

1. Librarian Speaking
Librarian SpeakingSeven librarians of ITB tell the other side of the main job, including experience as a language staff at NAM Summit and took a picture with Presidents; gained a double-degree scholarship and go abroad; feel comfortable and proud with the profession of being a librarian ; involved in librarian organization and convey knowledge to the youth; as a friend for students to talk about to find inspiration; awarded an overseas speakers and the librarian who always eager to improve herself (Librarian Speaking is a book in Indonesian and English) Tujuh pustakawan ITB menceritakan juga sisi lain dari pekerjaan utama, diantaranya pengalaman sebagai tenaga kebahasaan pada KTT GNB dan berfoto dengan Presiden; mendapat beasiswa double-degree dan melanglang buana; merasa nyaman dan bangga dengan profesi pustakawan; dapat berorganisasi dalam kegiatan kepustakawanan dan menyampaikan ilmu perpustakaan kepada generasi muda; sebagai teman mahasiswa “curhat” untuk mencari inspirasi; mendapat kesempatan menjadi pembicara di luar negeri; serta pustakawan yang selalu ingin meningkatkan kualitas dirinya.

2. READING AT BOSSCHA VILLAGE: Kiat Menggelorakan Minat Baca
READING AT BOSSCHA VILLAGE: Kiat Menggelorakan Minat BacaBuku ini membahas kegiatan membaca di Kampung Bosscha, Lembang, Jawa Barat. Bagian pertama memaparkan tentang Observatorium Bosscha FMIPA, ITB yang termasuk ke dalam wilayah RW 10 Kampung Bosscha, Desa/Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Keberadaan peneropongan bintang yang didirikan tahun 1923 berkat kedermawanan K.A.R. Bosscha yang menggandeng pengusaha lain pada tahun 1920-an, untuk membuat stasiun pengamatan astronomi di Lembang. Tanah seluas 6 hektar merupakan sumbangan pengusaha su

Leutika Leutika 

Wayang  Scanie  mahoni