Kategori Budaya

Ini bukuku tentang Uzbekistan yang ke-4 dari 3 kali perjalananku di Uzbekistan dan masih ada 1 atau 2 buku lagi set3elah ini, sebelum aku mengunjunginya lagi tahun 2026.
Terima kasih yang terutama untuk Tuhan YESUS ku, yang benar2 memberi aku kekuatan, keberanian, kesehatan yang prima dan kesejahteraan hidup untukku, walau aku tetap berada di atas kursi roda elektrikku. Tetapi, aku mampu ke Uzbekistan dan keliling dunia, sendiran untuk melakukan misi utamaku, berjuang bagi aksesibilitas disabilitas dunia, terutama untuk disabilitas Indonesia …..
Terima kasih juga untuk teman dan sahabat yang selalu mendukungku atas semua kegiatan2ku. Terutama untuk Zoyirjon Narmetov, untuk penjagaan dan perlindunganku selama aku berada di Usbekistan. Selain sebagai tour guide dan penterjemahku disana.
Buku2ku yang selalu diedit, di desain dan diterbitkan oleh LeutikaPrio ini, akan terus bertambah seiring kebutuhanku selama aku melakukan perjalanan dan kegiatan2 yang aku anggap bisa memotivasi. Karena, ketika aku yang cacat ini bisa melakukan semua itu, seharusnyalah yang lain juga bisa, apalagi dalam keadaan bugar, sehat, Sejahtera dan non-disabilitas …..
Sekali lagi, terima kasih kepada semuanya, semoga buku ini bisa menjadi salah satu ruang untuk merenung dan termotivasi.
Salam inspirasi,
Christie Damayanti
Penulis

Ketika setelah aku menjalani traveling ke Kampung Adat Bena
serta menyusuri sebagian Pulau Flores ini, aku mendapatkan
jawaban dari sebuah pertanyaanku tentang perjuangan dan
merawat kehidupan. Karena, keadaanku yang sangat terbatas ini,
kadang kala aku susah sekali untuk terus berjuang, untuk masa
depanku.
Tetapi ternyata, kehidupan masyarakat purba Kampung Adat
Bena yang sudah berumur lebih dari 1.200 tahun lalu, sangat
intens untuk merawat dan memperjuangkan masyarakatnya untuk
tetap hidup dalam kebersahajaannya, bukan semata-mata saat ini
adalah masa-masa modern dan mereka menjadi masyarakat yang
modern.
Semuanya berawal dari keluhuran jiwa masyarakat purba, dan
jika kita amati dengan seaksama, kebersahajaan merekalah yang
mampu membawa kehidupan kita di zaman modern itu, bisa
survive.
Mereka hidup dengan sederhana dan damai dalam 9 suku yang
tinggal di sana di 45 rumah-rumah adat mereka. Sungguh
sikap yang sederhana dan sangat bersahaja, juga ketika mereka
menyambut kami dari Jakarta yang excited banyak bertanya dan
mereka menjawabnya dengan senyum hormat.
Belajarlah kita lewat kehidupan mereka yang tenang dan damai.

“Cerita” tentang Kampung Adat Nunungongo ini akan memberikan banyak dampak, bagi Indonesia dan bagi dunia, jika kita benar-benar ingin mencoba untuk melestarikan kehidupan purba Kampung Adat Nunungongo ini.
Dan bagiku sendiri,
Kampung Adat Nunungongo ini, memberikan dampak luar biasa untukku! Bukan hanya sebuah kenyataan yang memberikan banyak inspirasi untukku saja sampai-sampai aku fokus sekali untuk menuliskannya secara detail, tetapi aku justru ingin sekali menuliskan banyak kampung adat.

Buku teks pelajaran Mari Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial untuk Kelas VII SMP/MTs ini merupakan buku teks pelajaran Kurikulum 2013 sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 37 Tahun 2018 tentang kompetensi inti dan kompetensi dasar mata pelajaran.
Buku ini mencakup materi yang lebih luas daripada buku sejenis. Materinya sangat kontekstual dilengkapi dengan beragam gambar. Keberadaan tugas individual dan kelompok sangat mendukung perkembangan kreativitas siswa dalam berkolaborasi. Buku ini memuat literasi dasar dan penguatan karakter. Soal latihan yang disajikan sudah mengarah pada berpikir HOTS sehingga sangat mendukung untuk pembelajaran abad ke-21.
Siswa dan guru dapat berkolaborasi dalam mengembangkan materi pelajaran. Lengkap, mudah dipahami, melatih daya pikir tinggi, kolaboratif, dan solutif, semuanya bisa diperoleh dari buku teks pelajaran ini.