slogan leutika prio

Membaca Itu Penting Untuk Penulis

Posted: 02-02-2012 16:32

Sender: Robertus Bellarminus Nagut

Saya ingat Marga T., penulis dengan ratusan novel laris dan yang berhasil hidup dari royalti menulis. Pada sebuah kesempatan, dia berujar tentang salah satu keharusan jika seseorang ingin menjadi penulis. “Menjadi seorang penulis berarti menjadi orang yang harus membaca tulisan orang lain,” demikian Marga T. seperti dikutip sebuah majalah -entah apa saya lupa-. Baginya, tulisan orang lain itu mungkin seperti makanan bergizi dan imunisasi.

Saya jelas setuju dengan penulis Lonceng Kapel Tetap Berdentang itu. Membaca adalah langkah awal menjadi penulis. Kita semua pasti sadar bahwa ketika kecil, kita mengenal huruf terlebih dahulu dengan meng-eja abjad, sebelum belajar menarik garis dan menuliskan huruf atau angka. Maka, membaca adalah langkah pertama sebelum kita mengenal tulis. Di sekolah juga, guru SD kelas satu biasanya mengawali pelajarannya dengan mengenalkan huruf untuk dibaca, dan setelahnya melanjutkan kurikulum menulis, dan selanjutnya pelajaran mengarang.

Tentang mengapa membaca penting untuk seorang penulis, saya punya beberapa jawaban personal:

Pertama, menjaga orisinalitas karya. Semua juga tahu bahwa ada ribuan ide cerita di muka bumi ini dan telah dituliskan dalam berbagai bentuk karya. Cerpen, roman, novel, aporisma, naskah film, script iklan, puisi dan lain sebagainya. Membaca karya-karya itu akan memberi penulis kesempatan untuk tidak mengulang ide serupa agar tidak terkesan basi, atau minimal dalam eksekusi karya bisa menggunakan sudut pandang lain. Dengan demikian orisinalitas karya akan terjamin dan tidak akan mendapat kritikan berupa: Ah… cerita ini kan sudah pernah dibuat, yang dulu malah lebih keren. Meski tentu saja sedikit sekali ide masa kini yang akan dianggap benar-benar orisinil.

Kedua, belajar bertutur. Ya… kekuatan penulis adalah pada cara menarasikan cerita. Maksud saya, ide terhebat sekalipun akan menjadi hambar jika penulis salah menyampaikannya. Bahkan ide sederhana akan menjadi sangat luar biasa ketika mampu dituturkan dengan baik. Tentang ini, saya tertarik dengan gaya bercerita Ahmad Tohari dalam Bekisar Merah dan juga Belantik, ketika dunia Karang Soga sebuah desa kecil entah di mana tiba-tiba mampu menjelma menjadi dunia saya sebagai pembaca. Ya, dengan membaca tulisan penulis lain kita bisa menentukan bagaimana cara kita bertutur ketika hendak menulis cerita.

Ketiga, menulis ulang dengan hebat. Banyak film yang diadaptasi dari novel kemudian dianggap gagal. Masyarakat yang mengenal cerita itu dari buku, kecewa karena versi layar lebarnya menjadi tidak menarik. Bagi saya, kelemahan scripting atau penulisan naskah terjadi karena tidak ‘membaca’ novelnya dengan sungguh; selain kelemahan sinematografi. Artinya, membaca tulisan orang lain sebenarnya berpeluang membuat seorang penulis mampu menulis cerita lebih hebat, terutama karena saat membaca kita diberi peluang untuk bertanya dan menemukan jawaban atas ruang kosong yang mungkin kita temui.

Cerpen Telinga dalam Antologi Cerpen pertama saya yang terbit di Leutikaprio, juga berhasil lahir setelah membaca puisi seorang sahabat di facebook.

Keempat, agar kita sejenak berhenti menulis. Terlalu banyak menulis dalam waktu yang singkat kabarnya akan membuat nilai tulisan kita berkurang. Dikejar target untuk menyelesaikan tulisan dalam jumlah tertentu membuat karya kita kadang kehilangan rasa. Menurut saya, itu yang terjadi pada beberapa penulis yang mungkin tak sempat membaca karya orang lain atau bahkan karyanya sendiri, sehingga para penggemarnya kecewa pada buku-buku setelah buku pertama.
Berhentilah sejenak menulis, mulailah membaca -buku, blog, majalah dan postingan sahabat lain di forum-, meresapi tiap bacaan menjadi cerita personal kita dan mulailah menulis lagi.

Dan penulis yang saya maksudkan dalam tulisan ini adalah kita semua, bukan hanya mereka yang berhasil menerbitkan buku, tetapi kita semua yang mencintai dunia tulis-menulis ini.
 
Salam
Armin Bell
Penulis Telinga - Sebuah Antologi


Share |
Leutika Leutika 

Wayang  Scanie  mahoni