slogan leutika prio

Mengapa anda tidak bisa menyelsaikan novel yang anda tulis?

Posted: 23-05-2012 00:55

Sender: Loganue Saputra Jr

Beda penulis beda juga cara mereka menulis, mungkin perbedaan itulah yang akhirnya menjadi sebuah ciri khas seorang penulis untuk setiap karya yang dihasilkannya walau pada akhirnya tujuan dan harapan setiap penulis seringkali sama dan tidak jauh berbeda. Menyelesaikan tulisan mereka dan dibaca oleh banyak orang. Berbagi alias memberi dan juga menerima kembali hasil dari karya yang mereka hasilkan atas semua pembaca.

Seperti yang saya katakan di atas bahwa setiap penulis memiliki cara mereka masing-masing dalam menulis, cara mereka masing-masing dalam menyelesaikan tulisan mereka. Maka pada kesempatan kali ini saya akan membagi beberapa tips atau cara yang sering saya lakukan ketika sedang menulis, terutama saat menulis sebuah novel yang memiliki durasi cukup panjang dan memakan waktu yang cukup lama.

Sebelumnya saya akan memberikan gambaran tentang karya fiksi menurut pendapat saya. Karya fiksi adalah sebuah karya naratif yang berisi sebuah cerita yang bisa saja memang benar-benar pernah terjadi dan atau malah tidak pernah terjadi sama sekali. Dan yang membedakan karya fiksi dengan non-fiksi adalah; karya fiksi bersifat imajinatif sedangkan pada karya non-fiksi bersifat faktual.

Karya fiksi juga ada yang dikenal dengan istilah fiksi non-fiksi, fiksi non-fiksi ini biasanya adalah sebuah karya fiksi yang berisikan sebuah kejadian nyata yang benar-benar terjadi, benar-benar ada sejarahnya hanya saja dikemas dalam sebuah cerita yang naratif dan indah dan sering kali juga diselipkan beberapa bagian fiksi untuk mendramatisasi sebuah kejadian nyata.

Karya fiksi non-fiksi ini terbagi atas tiga bagian; pertama, fiksi historis, merupakan karya fiksi bahan tulisan dari karya fiksi yang ditulis berasal dari sebuah kejadian nyata di dalam sebuah sejarah, jadi sejarah yang dipaparkan dalam cerita itu merupakan kejadian nyata yang memang benar-benar terjadi pada waktu lampau. Kedua, fiksi biografis, merupakan karya fiksi yang ditulis berdasar sebuah kejadian sesuai dengan fakta biografis yang ada. Ketiga, fiksi ilmiah, sebuah karya fiksi yang ditulis berdasarkan fakta dari sebuah ilmu pengetahuan.

Karya fiksi juga terbagi atas beberapa jenis seperti; Puisi, Pantun, Fiksi Mini, Cerpen, Cerbung, Novelit, dan Novel. Pada kesempatan kali ini saya akan lebih fokus menjelaskan tentang novel, apa saja yang perlu diperhatikan dalam menulis novel sehingga ketika memulai untuk menulis semuanya menjadi lebih mudah.

Menulis novel jauh lebih sulit daripada menulis sebuah cerpen, karena durasi yang diperlukan jauh lebih lama, konflik dalam cerita jauh lebih lengkap begitu juga dengan pengembangan tokohnya, setting, dan alur ceritanya jauh lebih dalam dan detil. Oleh sebab itu, sebelum memulai menulis novel ada banyak hal yang harus dipersiapkan agar kelak tidak terhenti di tengah jalan karena kehabisan ide tau malah kebingungan ingin dibawa ke mana cerita yang sedang ditulis.

Ada banyak orang mencoba menulis novel akan tetapi memperlakukannya seperti mereka menulis sebuah cerpen, walau sebenarnya menulis cerpen pun tidak bisa dilakukan dengan menulis saja tanpa ada kerangka cerita yang jelas, akan tetapi cerpen sah-sah saja diperlakukan seperti itu karena cerita yang terkandung di dalamnya terbilang pendek dan biasanya ditulis dalam waktu yang singkat, sehingga penulis lebih mudah mengingat alur serta konflik yang sedang ditulis.

Berbeda halnya dengan novel, ketika menulis novel kerangka cerita sangat lah penting karena sangat membantu untuk menuntun penulis kepada konflik yang tersusun di dalam alur cerita yang rapi, sehingga penulis tidak menemukan kebuntuan alias kehabisan ide untuk menyelesaikan karya tulis mereka.

Berikut adalah langkah yang selalu saya lakukan ketika ingin menulis novel. Sebelum memulai menulis saya biasanya memastikan cerita apa yang ingin saya tulis, setelah mengetahui apa yang ingin ditulis, langkah selanjutnya adalah menulis ringkasan cerita kasarnya dengan beberapa tokoh penting dalam novel tersebut, setelah itu saya mulai mengumpulkan data tentang cerita yang ingin ditulis.

Pengumpulan data adalah proses yang cukup sulit, karena dari data yang kita kumpulkan itulah yang pada akhirnya bermanfaat untuk kita membuat kerangka cerita secara detil. Setelah melakukan pengumpulan data, tibalah waktunya menciptakan data untuk diri kita sendiri terhadap pengembangan tokoh-tokoh yang akan hadir di dalam novel yang ingin kita tulis.

Pengembangan tokoh meliputi, jenis kelamin, umur, ciri khas, hubungannya dengan tokoh lain, serta jika perlu membuat sejarah singkat tentang kehidupan tokoh tersebut. Saya sering kali membuat sebuah cerpen tentang kehidupan tokoh tadi sehingga nantinya mempermudah saya untuk mengembangkan sifat dari tokoh tadi.

Selesai dengan pengembangan para tokoh, waktunya membuat kerangka cerita, kerangka cerita itu ada banyak jenisnya tergantung kebutuhan penulis. Ada yang membuat kerangka cerita dalam bentuk sebab akibat, ada juga yang membuat kerangka cerita dalam bentuk pohon pikiran, dan ada juga yang membuat kerangka cerita dalam bentuk bab atau malah sub-sub bab. Kalau saya biasanya membuat kerangka cerita dalam bentuk bab, sehingga saya selalu mengetahui pada bagian mana saya akan memberikan kejutan kepada pembaca dan pada bab keberapa novel yang saya tulis akan berakhir.

Mungkin sekian tips menulis novel dari saya, semoga bermanfaat

Loganue Saputra Jr, Muara Pahu 2012



Share |
Leutika Leutika 

Wayang  Scanie  mahoni