slogan leutika prio

Tulis dan Rasakan keasyikan menulis!

Posted: 17-02-2013 13:24

Sender: Cahyaningtyas Kushardina

 

Suka menulis? Atau baru mau mencoba untuk menulis?

Nah, apabila kalian baru mencoba untuk menulis, yang pertama-tama kalian lakukan adalah: “Tulislah ide kalian”.

Beberapa kali saya mendapat pertanyaan dari kawan atau permintaan untuk menulis cerita. Kebanyakan permintaannya kalau nggak ini >> Din, tolong buatin cerita, dong.” ya permintaan yang ini >> Din, ajarin buat cerita dunk.” Tapi, begitu diiyakan, dan saya minta buat ceritanya, ujung-ujungnya gak jadi dah --"

Sayang sekali. :')

Sebenarnya, untuk memulai suatu tulisan itu mudah, kok. Yang harus kalian lakukan untuk pertama kalinya adalah mulai menulis. Kalau kalian punya ide dan hanya diawang-awang saja, eman-eman atau sayang sekali. Mending idenya kalian tulis. Atau misalnya kalian memiliki bayangan mengenai ceritanya, kalian bisa menuliskan gambaran ide itu terlebih dahulu agar tidak hilang lagi, baru kemudian membuat kerangka ceritanya. Itu yang biasanya saya lakukan, sih. *Malu*

Jangan pernah malu untuk memulai suatu tulisan. Tulisan atau draft pertama kalian pasti jelek (hampir semua penulis yang telah berpengalaman, biasanya akan melakukan rewriting pada draft pertama mereka, hal ini gunanya untuk mensinkronkan ataupun mengecek apa saja kekurangan dalam draft pertama). Setelah di-rewriting (ditulis ulang), dibaca, kemudian ditulis berulang-ulang, sampai akhirnya kita sendiri jadi bosan dan enek baca tulisan sendiri. Tidak ada karya yang sempurna, yang ada adalah mendekati sempurna. :D

Kalau saya, dalam memulai suatu cerita, biasanya saya akan membuat kerangka cerita terlebih dahulu. Jadi, saya sudah memikirkan bagaimana awal, konflik, maupun akhir ceritanya. Saya sarankan, jangan terlalu detail dalam membuat kerangka cerita. Kenapa? Karena itu bisa mengekang imajinasi kalian dan membuat cerita terpaku pada suatu permasalahan.

Bagi saya pribadi, kerangka cerita adalah patokan, jadi akan saya ibaratkan dengan jalan. Bila saya mau pergi ke Semarang, saya bisa melalui jalan mana pun yang saya suka. Bisa saja saya berputra-putar dulu di Ungaran baru sampai Semarang. Atau, dari Ungaran saya memutar lewat Salatiga kemudian menuju Purwodadi, lewat Demak, baru sampai Semarang. Nah, fungsi kerangka cerita ini adalah supaya kita tidak membuat idenya mengembang terlalu jauh. Jadi semisal kita mau pergi ke Semarang, kita tidak perlu pergi ke Jakarta dulu untuk naik pesawat sampai ke Semarang. :))

Kalau untuk penggambaran cerita, misalnya dalam buku saya ini saya membuat sebuah konflik perang antarkerajaan, maka saya membuat beberapa patokan, kenapa perang itu terjadi, bagaimana hubungan antartokohnya, seperti apa wilayah topologi daerah yang akan berperang, kondisi masyarakat di sana seperti apa saat akan berperang. :D

Nah, berusahalah untuk mematuhi patokan-patokan yang ada. Misalnya, saya ingin membuat konflik perang yang disebabkan karena raja dari Kerajaan A dibunuh, maka berdasarkan patokan-patokan yang sudah ada, walau ceritanya dikembangkan, saya akan mengarahkan ke konflik yang telah dibuat di awal. Dengan begitu, cerita akan lebih mudah untuk kita arahkan. :D

Kemudian, kerangka cerita juga mempermudah kita untuk mengelola karakter atau tokoh-tokoh cerita yang banyak. Jujur saja, sewaktu membuat Para Pengendali Naga: Nyanyian Perang di Tanah Naga, saya cukup kerepotan dengan karakter cerita yang banyak. Hal itu dikarenakan di awal saya tidak membuat kerangka ceritanya, sehingga pada bab ketiga atau keempat, buku ini mengembang terlalu jauh, dan saya terpaksa menghapus beberapa bagian cerita. Coba bayangkan, kalian punya lebih dari sepuluh karakter yang punya watak, sifat, dan temperamen yang berbeda-beda dan kalian harus menggabungkannya dalam satu cerita besar?! Itu cukup membuat saya klenger. Kalau tidak ada patokan cerita yang baku, idenya akan mengembang terlalu bebas, bahkan mungkin hanya satu tokoh saja yang ceritanya bisa diulang-ulang di semua tempat. @___@

Saat di pertengahan penulisan Para Pengendali Naga, barulah saya membuat kerangka ceritanya. Nah, di kerangka ini, saya mengarahkan cerita ke konflik akhir, sehingga akhirnya jadilah Para Pengendali Naga yang sekarang (tapi tentu dengan beberapa pengeditan di sana-sini). *malu*

Saat ingin menulis, maka tulislah. Jangan tanya dulu bagaimana caranya, tetapi tanyakan dulu seperti apa rasanya jika aku menulis.

Tidak ada ide yang jelek, tidak ada ide yang bagus juga. Sebuah ide sederhana bisa dikelola menjadi cerita yang luar biasa jika kita mampu meramunya dengan baik. :)

Jangan lupa juga tentang HAKI dan ISBN. HAKI >> Hak Kekayaan Intelektual (hak karya cipta kita) dan ISBN >> nomor registrasi buku kita yang membuat buku kita otomatis masuk ke daftar perpustakaan nasional (saya agak lupa jelasnya bagaimana, tetapi kapan-kapan akan saya carikan mengenai hal ini). Sesederhana apa pun ide kita, jangan pernah berkecil hati. Karena kelak, suatu hal yang kecil itu mungkin bisa menjadi besar. Selamat membaca dan menulis!! \(^^)/

 

 



Share |
Leutika Leutika 

Wayang  Scanie  mahoni