slogan leutika prio

Great Teacher Smart Student (Guru Hebat Siswa Pintar)

Penulis: Fajjin Amik, S.Pd.,M.Si & Usep Saefurohman, S.Pd, Kategori: Pendidikan
Great Teacher Smart Student (Guru Hebat Siswa Pintar)
Zoom
ISBN: 978-602-225-931-2
Terbit: Oktober 2014
Halaman : 234, BW : 234, Warna : 0
Harga: Rp. 62.600,00
Deskripsi:
Sehebat apa pun dokter, sepandai apa pun arsitek, setangguh apa pun petinju, dan selihai apa pun pemain sepak bola, atau bahkan kehormatan menjadi presiden, semua itu tak lepas dari peran seorang guru. 

Buku ini coba menyajikan tentang bagaimana proses menjadikan guru yang hebat, guru yang tak miskin, bukan miskin (hanya) materi, melainkan tak miskin ilmu, ide, pengalaman, wawasan, karya, kreativitas, dan pergaulan. Kolaborasi yang tepat dalam meramu hal-hal tersebut dapat memunculkan proses dan hasil pendidikan berkualitas. 

Guru sejati tidak hanya sekadar menjadi ‘guru’, ia harus dimaknai sebagai sebuah panggilan profesi, profesi yang menyehatkan, paham akan wawasan pendidikan (tak hanya di Indonesia), mampu menanamkan kebahagiaan menjadi guru serta menjadi teladan bagi anak didik. 

Menjadi guru tidak hanya sekadar mengajar. Melainkan tak berhenti untuk belajar. Karena guru adalah kaum intelektual transformatif sehingga ia harus terus belajar dari para pembelajar. Belajar dari apa pun dan di mana pun karena ia memang harus kreatif dan mampu berkreativitas lebih.

Buku ini juga menggali pentingnya sebuah buku beserta manfaat dan keajaibannya bagi guru dan anak didik. Menunjukkan bahwa pendidikan dan prosesnya bukan hanya sekadar capaian prestasi dan kecerdasan akademik semata, melainkan harus diimbangi dengan kecerdasan lainnya. 

Karenanya, proses pendidikan bukan hanya sekadar belajar, karena kelas bukanlah penjara dan siswa bukanlah gelas kosong karena mungkin saja yang bermasalah bukanlah siswa melainkan guru, atau mungkin juga karena suatu penyakit yang bernama desteachia pada guru.

Download contoh buku: Download

Dilihat: 1786 kali.
Beli:   


Share |


Produk Sejenis

  • English Book Side A
  • Implementasi Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam Penilaian Kurikulum 2013
  • Oseanografi
  • Penerapan Metode Problem-Based Learning (PBL)
  • Aku Anak Nelayan: Kisah Inspiratif Seorang Guru Penulis



Review

Leutikaprio
Kirim: 07-01-2016 13:52
Sehebat apa pun dokter, sepandai apa pun arsitek, setangguh apa pun petinju, dan selihai apa pun pemain sepak bola, atau bahkan kehormatan menjadi presiden, semua itu tak lepas dari peran seorang guru. Buku ini coba menyajikan tentang bagaimana proses menjadikan guru yang hebat, guru yang tak miskin, bukan miskin (hanya) materi, melainkan tak miskin ilmu, ide, pengalaman, wawasan, karya, kreativitas, dan pergaulan. Melalui buku ini, pembaca seolah ‘dibuka’ kembali pikirannya apabila ingin menjadi guru. Karena, menjadi guru tidak boleh hanya menjadi ‘sekadar guru’. Istilah ‘sekadar guru’ yang dimaksud adalah guru yang hanya datang, mengajar tidak dengan hati lalu pulang ke rumah. Padahal demi terlaksananya proses pembelajaran yang menyenangkan di kelas, seorang guru harus rela berkorban membuat media pembelajaran & alat peraga, agar siswanya lebih mudah memahami materi. Bagi beberapa orang yang memang mencintai dunia mengajar, mereka akan merasakan kebahagiaan, kebersamaan dengan siswa-siswanya. Bagi mereka, mengajar juga merupakan profesi yang mulia yang bisa memberi, melayani, dan memotivasi siswa-siswanya. Dalam buku ini juga dibahas bahwa ketika menjadi guru alangkah baiknya mampu membangun hubungan dengan anak-anak di sekolah dengan akrab dan harmonis. Di dalam buku Great Teacher Smart Student ini, juga terdapat kutipan dari Henry Brooks Adams: Guru atau pendidik memiliki pengaruh yang luar biasa, tidak ada batasnya. Tidak ada yang bisa mengatakan di mana pengaruh seorang yang mendidik dengan baik. Mengajar juga harus dilakukan dengan hati agar apa yang disampaikan mampu dipahami dengan saksama oleh para murid. Di sini dibahas bahwa mengajar dibagi dalam 3 paradigma yaitu paradigma pertama adalah melihat guru & mengajar adalah pekerjaan semata, paradigma kedua adalah melihat profesi guru sebagai karier, dan paradigma ketiga adalah melihat profesi guru sebagai panggilan. Kalo kamu menjadi guru termasuk dalam paradigma yang mana? Agar, lebih jelas lagi dalam memaknai 3 paradigma mengajar, nah Leutikans bisa mencoba membaca buku ini. Pesan yang ingin disampaikan penulis juga cukup sederhana namun berkesan, “Do what you love and love what you do.”

Kirim Review

Nama:


E-Mail:


Review Anda:

Karakter: 



 

Leutika Leutika