slogan leutika prio

Kampoeng Horas

Penulis: LRS Chapter Medan, Kategori: True Stories
Kampoeng Horas
Zoom
ISBN: 978-602-225-139-2
Terbit: Oktober 2011
Halaman : 165, BW : 165, Warna : 0
Harga: Rp. 52.700,00
Deskripsi:
Menjenguk Kampung Horas. Kita dusuguhkan dengan eksotisnya Danau Toba dan orang-orang Batak yang melarang perkawinan semarga, seperti yang dikisahkan Muhammad Muslim Bahri. Tak jarang berbuah malapateka sebagaimana yang menimpa Lamhot, anak cacat fisik tak berdosa harus menanggung derita atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat. Danau yang dikenal dengan keindahannya pun ternyata tak membuat orang-orang bangga untuk menjaganya, begitu yang dikatakan Sartika Sari.
 
Oppung Pittauli menangis di pinggir Danau Taor melihat sumber energi surgawi orang-orang Batak telah tercemar dengan segala tingkah laku pemiliknya. Bersimbah air mata ketika melihat semua fenomena yang terjadi. Belum lagi jika kita mengintai bersama Rudiansyah Siregar tentang perjalanan hidup seorang Atan, anak nelayan miskin yang hidup dari menangkap udang di tengah-tengah Sungai Berumun di sisi Pulau Si Kantan. Sampan pencari makan, sebagai satu-satunya harta berharga yang tersisa harus hancur dihempas gelombang air pasang di tengah hutang yang menimbun dan nasi belum ditanak di gubuk kehidupan.
 
Sungguh mengharukan ketika kehidupan tak berjalan seperti apa yang diharapkan. Tak jarang semua itu menjadikan kita lupa sebagai hamba Tuhan. Sampai akhirnya seorang istri yang setia harus pasrah ketika dirinya melahirkan seekor babi mungil di samping mayat suaminya yang terkapar tak bernyawa dengan tampang yang sama, sebagaimana yang diriwayatkan Dani Sukma AS. “Tak sudi abang, dek! Ini turun temurun! Dari Oppung!” sambar Muhammad Anhar Husyam ketika Wita, sang kekasih menyuruhnya menjual becak khas Siantar untuk biaya nikah mereka. Hingga tangis pun tak mampu menggoyahkan pendirian lelaki itu untuk tidak menjual becak warisan, dan jangan pernah mengukur kecerdasan, sebab seorang tukang becak juga memiliki kecerdasan melebihi apa yang kita pikirkan, bahkan yang mungkin belum sempat kita bayangkan seperti yang dialami Evi Andriani.
 
Itu hanya sekelumit kisah dalam buku ini. Jika kau berani menjenguk lebih dalam, maka kau akan menemukan sesuatu yang berbeda; Selamat datang di Kampung Horas!
Download contoh buku: Download

Dilihat: 2665 kali.
Beli:   


Share |


Produk Sejenis

  • Menebar Serpih Asa: Catatan Harian Guru Ladang Sawit Sabah-Malaysia
  • Cacatan Harisan
  • Tompa & Jeany Sahabat Istimewa
  • Kenangan Masa Kecilku
  • Anak-Anakku, Matahariku



Review

Belum ada review

Kirim Review

Nama:


E-Mail:


Review Anda:

Karakter: 



 

Leutika Leutika