slogan leutika prio

Aku Pecandumu

Penulis: M. F. Riphat, Kategori: Kumpulan Puisi
Aku Pecandumu
Zoom
ISBN: 978-602-225-152-1
Terbit: Oktober 2011
Halaman : 96, BW : 96, Warna : 0
Harga: Rp. 27.100,00
Deskripsi:

-KATA MEREKA KETIKA MENELISIK ISI PUISI M. F. RIPHAT-

BEDA! seperti ada yang disembunyikan dibalik setiap kata-kata yang dipadukan. Buku ini bukan hanya telah menghidupkan isi puisinya, tapi juga cara pandang kita terhadap dunia. -Yapto Soelistyo Soerjosoemarno, S.H, (Ketua Umum Partai Patriot)

Ekspresif. Sangat menarik, di usia muda sudah mampu membuat seperti ini. Saya sempat mengernyitkan dahi ketika membacanya, salut. Sukses selalu dan tetaplah produktif dalam berkarya - Din Syamsuddin (ketua pp muhammadiyah)

Kaya akan kata-kata, penuh teka-teki, menarik, tapi tetap romantis -pevita pearce (artist)

I'm proud to know a very young and talented writer has emerged in indonesia. The book is very touching. Can't wait to have a signed copy and for the next book. Congratulations - Bertrand antolin(Actor/singer)

Kata2 nya dalam dan unik sekali. Benar2 sebuah pemikiran yang merupakan sebuah prestasi - nikita willy(aktris/penyanyi)

Kalau dilihat dari sudut pandang saya, seorang awam dalam dunia sastra, karya-karya Riphat mempunyai arti yang dalam dan sangat luas. Dikemas dengan sangat baik, dan cukup menarik isinya. Lumayan, dapat me-relax-kan otak saya disela-sela kesibukan saya. -Tyas Mirasih(artist)

It's a piece of art that had been written by heart. Very touchy, deep, and dark yet beautiful poems that comes from a beautiful mind. -Dika Restiyani (Muslimah fashion ambassador 2011)

Menurut saya, buku ini sangat didasari oleh emosi yg dalam. Sehingga sinyal itu sampai kepada pembaca. Sebuah energi yang kuat dan bisa menginspirasi. Luapan hati yg dikemas secara sempurna oleh Riphat. -Tsania Marwa (aktris/model)

Perpaduan kata dan pilihan bahasanya ngga monoton. suatu apresiasi anak bangsa yg perlu terus dipertahankan. - NS. Yasmine (Finalis Putri Indonesia 2011/Model)

Terdapat makna tersirat yang cukup dalam di setiap kata nya. Menarik ketika melihat penulis masih dalam usia belia. Semoga dapat menginspirasi generasi2 muda lainnya. Saya nantikan hasil karya berikutnya. -Garnis Mutiara Shavira, S.H (Finalis Miss Indonesia Earth 2010)

  
Download contoh buku: Download

Dilihat: 2766 kali.
Beli:   


Share |


Produk Sejenis

  • Jemari 7 Penyair
  • Bingkai Kata - Sajak September
  • Amor
  • Mutiara Relung Hati (Antologi Puisi)
  • KUMPUI



Review

M. F. Riphat
Kirim: 03-11-2011 02:07
Misalkan kita di kota timur; kita akan terbangun di tengah pagi buta, menonton mayat mereka di tengah jalan A. Mereka korban perang antar bangsa Mereka mati muda Tapi semua tahu kalau di kota timur, tidak ada lubang untuk kabur Tapi kenapa kota timur? Kalau terus memisalkan kita di kota timur; kita, pria itu, dan mereka. Pakaikan anak-anak baju baru yang kita beli waktu dulu 23 tahun lagi ia tak akan di ruangan ini. Seperti warna biru dalam busana kemayu Lagi-lagi aku tidak bisa meniduri kamu, ratuku Misalkan kita di kota timur; kita pasti sudah mati sia-sia (2011. Riphat, M.F. ) Cuplikan sajak berjudul “Misalkan Kita di Kota Timur” karya M.F.Riphat di atas sangat menghentak. Memang rasanya tidak cocok untuk dibaca saat sarapan. Mayat yang bergeletakan di jalanan dan perang bukanlah imajinasi yang tepat untuk teman minum teh dan mengunyah biskuit. Tapi saya menyukainya. Sajak seperti inilah yang kita butuhkan. Kenapa? Sebab sudah cukuplah kita mengeluh tentang berbagai rasa penat dan rutinitas sehari-hari. Tugas yang menumpuk, pekerjaan yang tak pernah berhenti berdatangan. Kita mengeluh seolah-olah kita manusia paling mengenaskan di dunia. M. F. Riphat, melalui sajaknya memberikan stimulus untuk kemudian memaksa kita melakukan introspeksi diri. Betapa beruntungnya kita kini bisa hidup tenang tanpa harus melihat mayat-mayat bergelimpangan. Betapa beruntungnya kita kini, bisa menikmati udara (yang meskipun kadang penuh dengan karbonmonoksida) tapi tak beraroma anyir darah. Betapa beruntungnya kita, masih bisa bertahan hidup hingga sekarang. Tidak mati muda dan sia-sia seperti sebagian saudara kita di kota timur. Betapa beruntungnya, kita hanya terjebak dalam rutinitas yang tidak membuat kita bertaruh dengan kematian seperti perang. “Aku; Pecandumu” sebuah kumpulan puisi yang sarat dengan kegelisahan hidup khas anak muda. Rasa kesepian dan kerinduan akan peluk seorang Ibu yang telah lama meninggal terlukis dengan sangat kuat dalam sajak berjudul “Ibu”, “Aku dan Si Bisu yang Kaku”, dan “Mengingatnya”. Ada buncah rasa bangga akan satu-satunya sosok lelaki perkasa dan setia, Ayah, dalam sajak “Tak Perlu yang Baru”. Gelora percintaan pun terekam dengan baik dalam buku ini. Sajak “Kisah Singkat Tentang Taman Hiburan” dan “Sehelai” meluapkan perasaan cinta pada sang kekasih. Kegelisahan, keterpurukan, rasa bimbang, dan kebijaksaan untuk memahami setiap musibah yang ada sebagai langkah menuju kedewasaan mewarnai sebagian besar sajak dalam buku ini. Sajak “Redup Lampu” , “Dalam Sunyi”, “Sendiri”, dan “Si S” mengekpresikan kekalutan dalam jiwa penulis. Sedangkan “Pemberhentian” dan “Titik Temu” seolah menjadi klimaks dalam episode hidupnya untuk kemudian kembali dihadapkan dengan berbagai macam problematika hidup.

M. F. Riphat
Kirim: 03-11-2011 02:02
mampir ke blog saya http://indistinctintimacy.blogspot.com/ dan follow twitternya di @indistinctpoet

Kirim Review

Nama:


E-Mail:


Review Anda:

Karakter: 



 

Leutika Leutika 

Wayang  Scanie  mahoni