slogan leutika prio

Kategori Kumpulan Puisi

1. Segara Luka

Segara LukaBuku ini merupakan kumpulan puisi yang bercerita tentang luka. Setiap orang pernah merasakan luka, dan buku kumpulan puisi dapat mewakili perasaan luka setiap orang dari berbagai sudut pandang

2. Haruskah Ada Judul untuk Perasaan ini

Haruskah Ada Judul untuk Perasaan iniRindu yang selalu menitik di tepi hati. Cinta yang basah oleh tetes embun kasihmu. Apa lagi yang aku cari dalam hidup ini, selain kepasrahan dalam genggaman asmara.

3. Amor

AmorKamu boleh jadi percaya pada semua hal dan segala yang menerimamu atau yang tidak. Namun, ada kalanya kamu sendirian dan tiada habis-habisnya mengutuk nasib buruk. Suatu hari kamu terbangun, lalu menatap ke dalam cermin. Kamu merasa terpencil. Kecil. Namun, Tuhan terus memandangmu, terus memberimu hidup. - Puisi "Dalam Cinta" * Mendadak aku sulit bernapas, kurasa paru-paruku akan rontok, dan aku akan mati sebelum bisa menemukanmu. Aku mencintaimu untuk hal apa pun. Aku mencintaimu hingga rasany

4. Merangkai Kata Meniti Asa (105 Unsur Kimia)

Merangkai Kata Meniti Asa (105 Unsur Kimia)Salam literasi! Buku Merangkai Kata Meniti Asa (105 Unsur Kimia) dalam Gerakan Literasi Sekolah merupakan produk literasi membaca, menulis, dan sains peserta didik kelas 12 IPA SMA Xaverius 1 Kota Jambi tahun ajaran 2016–2017 di bawah bimbingan Ibu Elizabeth Tjahjadarmawan, S.Si, M.Pd. sekaligus editor. Buku ini berisi deskripsi, sifat, dan kegunaan 105 unsur kimia di tabel SPU yang ditulis dalam bentuk puisi sehingga menghasilkan tulisan ilmiah yang indah sekaligus mencerminkan nilai-nilai kara

5. Tantangan Satu Malam

Tantangan Satu MalamLihat buku ini karya sahabat CSC sarat imajinasi dan kreativitas. Baca puisi ini, karya Tantangan Satu Malam, menambah pengetahuan penulis muda. Mari sebarkan virus literasi, banyak membaca untuk menulis, menulis untuk menciptakan keabadian. Dalam buku ini, 54 sahabat CSC, telah menuangkan karya imajinasi dan kreativitasnya. Walau jauh dari kesempurnaan, buku ini terbit sebagai buah dari kerinduan Cemara Scout Community (Pramuka SMA Negeri 1 Maniangpajo) dan Civil Society Community dalam menumb

6. Antologi Puisi: Hujan

Antologi Puisi: HujanHUJAN …… Setiap rintik-rintiknya, Setiap tetes yang turun, Setiap petir yang menyambar, Setiap dingin yang menusuk, Setiap aroma tanah yang memukau, dan setiap gelap yang mengiringi, selalu menciptakan kerinduan. BUKU ini terbit sebagai buah dari kerinduan Cemara Scout Community (Pramuka SMA Negeri 1 Maniangpajo) dan Civil Society Community dalam menumbuhkan semangat literasi bagi generasi muda. HASILNYA …… 59 Karya dari 53 Penulis bersatu dalam buku yang sederhana ini walau jauh dari indah dan sempurna. Bukankah puisi merupakan bahasa qalbu, curahan sanubari dari relung jiwa yang terdalam. Ia menjadi teman di kala sepi, menjadi kekasih di kala rindu, menjadi setetes embun di kala dahaga. SAJAK-sajak puisi ini datang dari hati, dan sesuatu yang datang dari hati, maka hati pulalah yang akan menerimanya. Puisi sederhana sebagai curahan jiwa ini telah tercurah mengiringi pena yang menari menuliskan bait demi bait di dalamnya

7. Tegur Sapa Kenangan Pagi

Tegur Sapa Kenangan PagiAwan dan langit symbol universal alam raya. Membaca sajak-sajakmu. Aku merasa membaca alam dimana kita bersama hidup di dalamnya. Di sana ada keluargamu. Di sini ada keluargaku. Di sana ada alammu. Di sini ada alamku. Tak ada perbedaan apapun. Waktu katanya. Sesungguhnya berlaku tetap pada sistem putarannya. Memandang langit luas dari ketinggian terasa semakin dekat keberadaan kita. Di ada tiada dan sebaliknya. Taufan S. Chandranegara

8. Menuju Ketiadaan

Menuju Ketiadaan"Melankolia kini, adalah tentang kematian bukan lagi penantian bukan juga kerinduan."

9. Tuhan, Kita, Kamu, dan Kata

Tuhan, Kita, Kamu, dan Kata“Tuhan, Kita, Kamu, dan Kata” merupakan kumpulan puisi Mardiana Kappara yang berasal dari Jendelasastra.com yang ditulis sejak 2011 hingga 2016. Sederhana dan lugas merupakan ciri dari puisi-puisi Mardiana Kappara. Walaupun terkesan memberontak dari cara kepenulisan puisi pada umumnya, Mardiana Kappara berusaha memotret sekelilingnya dengan kata-kata yang diharapkan lebih mudah dipahami.

10. Kisah Sebelum Tidur

Kisah Sebelum TidurBunda pasti selalu cemas Takut aku terjatuh di laut tak bernama atau ditangkap penyihir jahat dari utara Dunia begitu luas Kejadian begitu banyaknya Aku bukan siapa-siapa ”Bunda, itukah benua Afrika?”

11. Jejak Kata

Jejak KataHidup adalah ziarah panjang bagi setiap insan. Ziarah itu pula menginspirasikan penulis untuk menuangkan sesuatu yang tak terbatasi aturan jumlah kata, kalimat, paragraf, bait, dan rima. Merajut makna hidup tanpa terbelenggu. Apa adanya. Memahat setiap kata dalam syair-syair sahaja. Tiada kata tak bermakna. Tiada cerita yang tak berguna. Setiap perjalanan tinggalkan jejak. Jika jejak langkah tidak terabadikan, jejak kata tidak akan terhapus jaman. Jejak Kata mengungkapkan perjalanan, pengamatan, pergumulan bathin, dan endapan perasaan dari setiap langkah yang ditempuh dari seribu mil perjalanan sang pemilik. Jejak Kata tidak sekedar puisi memenuhi hasrat puitika, di balik puisi ada makna ziarah tersirat.

12. Pengabdian Tak Terbatas, Hidup di Bajawa Menembus Batas

Pengabdian Tak Terbatas, Hidup di Bajawa Menembus BatasPuisi-puisi ini menggambarkan tentang kisah-kisah nyata yang di alami penulis selama satu tahun mengabdikan diri mendidik anak negeri di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Tepatnya di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Mulai dari awal keberangkatan, pertama kali naik pesawat, disambut hangat dengan makan sirih pinang. Kebahagian telak dengan mendapatkan limpahan kasih sayang dari Bapak Mama asuh, rekan guru dan peserta didik memacu semangat berjuang. Hidup damai dalam perbedaan adat, tradisi, kebudayaan dan keyakinan memberi pelajaran berharga. Hal paling tak terduga, bisa bertemu dengan paman yang merantau sejak lama, bahkan sebelum ayah ibu dipersatukan dan belum pernah sekali pun melihat wajahnya. Perjuangan hidup di tanah perantauan, penuh haru, bahagia, menegangkan, mengharukan, semua rasa ada. Bait demi bait puisi dapat menjembatani dan mampu memberi gambaran kepada pembaca untuk bisa sedikit memahami serta merasakan hidup di daerah yang tertinggal dan terpencil. Hidup tanpa listrik, hidup tanpa signal, hidup sedikit air namun alam bergelimang pesona. Hidup penuh kesyukuran.

13. Membelah Dada Banjarbaru

Membelah Dada BanjarbaruKumpulan puisi ini memuat puisi-puisi yang tidak hanya merefleksikan pergulatan batin penyairnya secara individual, namun juga menyuarakan nurani seorang perempuan Kalimantan yang harus menghadapi kenyataan pahit berupa kerusakan dan pengrusakan ekologis yang akut di bumi tempatnya berpijak. Di sisi lain, sebagai insan yang daif, ia juga mengungkapkan kepasrahan kepada Sang Khalik atas semua peristiwa yang terjadi pada dirinya yang ia anggap sebagai guru kehidupannya.

14. Satu Hari Lagi di Bumi

Satu Hari Lagi di BumiBuku ini dibuka dengan potongan cerita dari novel yang sedang saya kerjakan, lalu dilanjutkan dengan kumpulan puisi saya yang bercerita tentang; cinta, perjalanan, amarah, dendam, permenungan, dan ke-Tuhan-an. Buku ini ditutup dengan sebuah kisah nyata yang pernah dialami oleh teman saya ketika dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

15. Senja Pukul Lima

Senja Pukul LimaSenja Pukul Lima adalah sebuah antologi perjalanan selama sehari lebih untuk mendalami rasa. Mulai dari pagi hingga hari berakhir dan subuh menjelang. "Setiap orang mempunyai cara sendiri untuk berkontempelasi, puisi bisa menjadi pilihan untuk mengguratkan isi hati menjadi gerakan pena. Dendy melakukan hal ini demi kepuasan diri, kepuasan menceritakan suasana hati di atas kertas. Kepuasan itu tak bisa dibayar dengan apa pun. Puisi yang menarik dari remaja yang beranjak dewasa." (Nurwahyu Alamsy

16. Nyanyian Larut Malam

Nyanyian Larut MalamKepada Tu Fu Pada segunung nasi aku menjumpai Tu Fu, Mengenakan topi bambu di terik siang bolong; Coba katakan, mengapa kau menjadi begitu kurus? Apakah kau menderita karena puisi?

17. Lalakon Nu Ngalalakon

Lalakon Nu Ngalalakon"Kabita ku sajak Inda nu ngaguluyur lir nu keur monolog. Abong kasangna tina teater ongkoh, ngaekspresikeun gagasan dina wangun sajak teh mani lancar. Salian ti monolog, Inda ge dialog. Inda dialog jeung 'nu karasa najan teu katara' bari mertelakeun ‘nu katampa najan tan karampa'. Monolog jeung dialog Inda mangrupa retorika cinta, ieu nu jadi kapunjulan dina sajak-sajakna. Nyaritakeun cinta, tangtu jembar pisan. Retorika Inda ge motret eta, monolog batin antara hubungan dirina jeung

18. Lelaki Berhati Dua

Lelaki Berhati DuaKu membaca matamu. Rentangan waktu bergulir mengiringi penantianmu merinduku. Aku menghilang, melenyapkan kisah yang tanpa sebab ingin kumusnahkan dan aku tak mampu. Lelaki yang kau nanti itu mencoba melupakanmu sejenak, tapi matamu menyimpan namaku. Pada tatapan pertama dulu kau coba menanam rindu di mataku. Aku seolah tak mengetahui adamu. Sebab hatiku pernah menyendiri dan kau hadir di saat hatiku membeku Ku berlari Mengurung sepi Melenyapkan mimpi Membungkamkan hati Sembunyi introspeksi diri

19. Tarian Langit dan Bumi

Tarian Langit dan BumiBegitulah kehidupan bagai sebuah gerak tari. Berbicara dengan kata tubuh, dirangkai dengan kalimat rentak dan gemulai, dialun dengan tetabuhan, musik, serta dendang-dendang syair saling menyemangati. Lewat ungkapan kata-kata, Iberamsyah Barbary menuangkannya ke dalam puisi: Tarian di antara langit Membungkus gelap dengan romansa Tarian di antara bumi Membungkus keindahan dengan keasyikan Begitulah perjalanan anak manusia, dialun gelombang rasa, tumbuh berbunga, seindah menebar wangi dan peson

20. Estalita

EstalitaSebuah pertemuan terakhir


Sebelumnya [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] Selanjutnya
Leutika Leutika 

Wayang  Scanie  mahoni