slogan leutika prio

Kategori Kumpulan Puisi

101. untuk sebuah kata.... cinta

untuk sebuah kata.... cintaakan ada saat dimana kamu harus tau…. cinta itu bukan sekedar kalimat dalam sebuah paragraf…. bukan sekedar coretan dari sebuah pena di atas kertas… bukan pula sekedar ucapan manis dari bibir semata…. cinta itu anugerah,anugerah terindah yang di berikan oleh-NYA… kamu tau,rasa cinta yang aku miliki…. tak mampu ku jabarkan dengan kata dalam kalimat yang terdapat di sebuah paragraf…

102. Afasia

AfasiaPuisi pada dasarnya adalah curahan hati. Puisi akan menjadi katarsis ketika ia mampu melahirkan pikiran-pikiran dan perasaan positif dari apa-apa yang menggelisahkan dirinya. Cinta, benci, marah, sedih, senang, cemburu, dendam, sepi, dan lain hal yang ada diri berbaur bagai benda-benda yang berterbangan dalam pusaran angin tofan, pada saatnya puisi akan membersihkannya. Terbitnya kumpulan puisi tunggal munggaran AD. Rusmianto semoga menjadi awalan yang baik untuk kepenyairannya ke depan, dan semoga juga tidak lantas merasa menjadi besar. Selamat. (Ashmansyah Timutiah - Pimpinan Komunitas Cermin Tasikmalaya) Seandainya ingin memahami semua yang tertuang di atas, maka orang yang bergelut dalam dunia Puisi haruslah cerdas dan tahan banting. “Orang ber-Puisi harus memahami tentang kesejarahan Puisi itu sendiri sebab sejarah adalah cerminan Pandora juga cermin untuk penyair”. Dan persoalan ini telah di setubuhi AD Rusmianto (Tatang Pahat, Esais Budaya) Komunitas penulis yang langsung terjun ke wilayah penerbitan, patut diapresiasi dengan serius. Karya-karya mereka acapkali mengejutkan. Kantung-kantung kecil kreativitas itu dijalani dan dihayati AD. Rusmianto. Pada saatnya bisa menjadi lokomotif penarik gerbong-gerbong kreatif komunitas yang bergairah. Perjalanan ekstensial itu ditemukan dalam “Afasia” (Duddy RS. - Pegiat Komunitas)

103. Cinta Bersemi di Rumah Santri

Cinta Bersemi di Rumah SantriMenulis puisi adalah dunia remaja. Ketika datang rasa senang, sedih, apalagi cinta, akan ada kata indah mewakilinya. Ke-101 puisi yang ditulis siswa SMP Ali Maksum bersama pelajar SMP/MTs se-DIY dalam antologi ini adalah bukti anggapan tersebut. A. M. Shochibul Wafa • Abdis Sholikhan • Abyan Habib B. • Aditya Nefa W. • Afara Joharmanik • Agil Manggala Mukti • Ahmad Ali Gabriel • Ahmad Fatih M. • Ahmad Muzammil Wafi • Aflahur Ro’I Sy • Amarta Ghofur • Amyaz Bill Aufaq • Andini Dyah Aryanti • Anisha Anggraini • Ayu Rahmawati • Ayuni Nur Safitri • Bambang Seto Buono • Dian Fadjar Cahyati • Eli Pratiwi • Erni Febri Astuti • Eva Rahmanitami • Faqih Jakha Juantomo • Farhan Masruri Ahmad • Febryz Bagus W. • Gigih Adi Nugroho • Gilang Haidar Najih • Gilang Prakoso • Gita Gerlin • Hana Megrina Nuritasari • Ihza M. Hanifah • Ilham Muzakki • Indar Rosanti • Isbiq Alfi Annur • Karmilawati • Kinasih R. D. • Krishnamurti Akbar Ibrahim • Laily Hidayati • Latifah A. Putri • M. Rifai Ega P. • M. Sidqi Kamal • Miftahurromat Ibnu Qusyairi • M. Mirza Fadil • Muh. Alfan Haitami • Muh. Shalahudin Aulia • Nabila Shafira K. • Noor Laili • Pungky Widiyana Candra Dewi • Qolbiyatul Lina • Reza Aulia Tansri Pratama • Rika Sofwatun Nada • Rina Dwi Putri Ariningtyas • Rizka A. Putri • Rohim Mustofa • Shifiyya Nur Azmi • Siti Hajrah H.A. • Sulistya Hadi • Syafira Dinda • Tahta R. G. Atapukan • Velya Rosita Putri • Vicy Maya • Yoga Dwi Cahya • Yumna Nur Maulida • Zulfa Nur Ratri • Zulfatulngulya I. K. D. Pendamping: Hasta Indriyana • Hermawan B. Santoso • M. Habibi • Uye Kinomoto • Siska Yuniati

104. Senandung Alam

Senandung AlamMungkin akan sampai padamu suatu waktu dalam pelayaran hidupmu negeri yang dibelah sungai Melayu o Melayu

105. Kicau Sepasang Murai Batu

Kicau Sepasang Murai BatuAntologi puisi ini adalah perwujudan perjuangan Sang Murai Jantan. Naluri bertarung Sang Murai Jantan dengan menampilkan segala keindahan yang dimiliki untuk menaklukkan Sang Murai Betina. Dimulai pertemuan pada saat masih duduk di bangku perkuliahan hingga mendapatkan cinta Sang Murai Betina. Penuh nuansa romantis, kegalauan, perjuangan, hingga kehidupan sosial Sang Murai Jantan dan Betina. Ada apa dengan mereka? Inilah, Hadiah Satu Tahun Puncak Rindu mereka berdua.

106. Perjalanan Hati

Perjalanan HatiAku dan kamu seperti pelangi, perbedaan kitalah yang kemudian menjadikan kita sesosok warna yang indah. ~ @PelukisCinta Jika ada pilihan lain selain mencintaimu, hidupku tak akan memilih apa-apa. ~ @Bemz_Q

107. Menantang Waktu

Menantang Waktu"Aku mencintaimu tanpa waktu", satu larik sajak dalam buku ini memperlihatkan gairah muda yang ingin bertarung dengan waktu. Sajaknya mencoba mengatasi yang inderawi dan duniawi, melalui refleksi kental yang sangat terasa filosis. - Agus Noor

108. MERAPIKU, PUISIKU, DAN ORANG-ORANG DI SEKELILINGKU

MERAPIKU, PUISIKU, DAN ORANG-ORANG DI SEKELILINGKUMERAPIKU berisi tentang bencana meletusnya Gunung Merapi beberapa waktu yang lalu hingga kejadian-kejadian pasca-letusan. Tentu saja sebagai puisi, bukan cerita fakta secara fisik yang ada dalam puisi, melainkan sesuatu yang dekat dengan hati.

109. REMBULAN PUN MELAPUK DI RERANTING PERAK

REMBULAN PUN MELAPUK DI RERANTING PERAKMembaca puisi Syukur A. Mirhan membuat saya terpana, terpesona, terlena, terdiam, terpaku, tertafakur .... (Boim Lebon, Sahabat FLP, Penulis Cerita Komedi Anak dan Remaja, Produser RCTI)

110. MONOLOG MATAHARI

MONOLOG  MATAHARIDi sini, kata-kata tak hanya dirangkai, dirajut, tetapi juga mampu hidup dan menghidupkan ruh kesadaran bagi kita. Hakikat hidup dan kehidupan, dalam batas-batas tertentu, dapat terselami dengan puisi-puisi yang tertuang dalam antologi ini.

111. Gempa

GempaBanyak kata-kata bermakna yang indah untuk dinikmati dalam buku kumpulan puisi dan cerpen “Gempa” ini. “Tak dapat dihindari”, menjadi ungkapan rasa bagi setiap insan yang menginginkan cinta sejati.

112. Jemari 7 Penyair

Jemari 7 PenyairBuku antologi "jemari 7 penyair" ini adalah ambisi kami yang tertunda kurang lebih satu tahun. Semoga sumbangsih kami yang tidak seberapa ini, mampu memberi warna bagi perkembangan sastra, khususnya penulisan puisi, di Tanah Air tercinta ini.

113. Musim Mengenang Ibu

Musim Mengenang IbuBuku Kumpulan Puisi 'Musim Mengenang Ibu' ini berisi ratusan puisi Dodi Prananda yang ditulis sepanjang tahun 2008 hingga tahun 2011. Beberapa puisi yang terhimpun dalam buku ini telah dimuat di media cetak. Puisi-puisi dalam buku ini banyak bercerita tentang kecintaan seorang anak pada Ibu dan Ayah; sebab sosok Ibu dan Ayah kerap menjadi inspirasi bagi Dodi dalam menulis. Hal lainnya yang juga diangkat dalam puisi-puisi di buku ini adalah tentang kehidupan Kota Jakarta dan sebagian lagi tentang lingkungan, memoar sahabat dan kerabat, serta cinta. Selain juga pernah dimuat di media, beberapa puisi lain juga pernah meraih sejumlah penghargaan dalam kompetisi puisi baik di level provinsi dan nasional.

114. KUMPUI

KUMPUIBuku ini menarik, dapat memberikan pencerahan bagi setiap pembaca. Buku ini mewakili jati diri pembaca, sebab mengisahkan tentang kehidupan, alam, cinta, pengkhianatan, pemberontakan, kemunafikan dan ketaqwaan hingga kematian.

115. Rembulan Yang Terenggut

Rembulan Yang TerenggutKisah tentang kehidupan, romantika cinta dengan suka duka dan peristiwa tragisnya. Pengalaman spiritual, juga menyajikan cerita sebuah bangsa besar yang dipimpin oleh pemimpin berotak mesum, serta kasus-kasus mega korupsi yang tak terselesaikan.

116. Bingkai Kata - Sajak September

Bingkai Kata - Sajak SeptemberSeptember ini, Aku mengeluh Bahwa kau adalah pelangi Tapi tak bisa kupandangi Bahwa kau rasa Tapi tak bisa kunikmati Bahwa kau Penggenapan kata atas kalimat yang tak terungkap Penyempitan rasa atas asa yang tak tersampaikan

117. Antologi Cantik Poem Village

Antologi Cantik Poem VillageAntologi Cantik Poem Village ini adalah kumpulan pusi dari warga WR Puisi, sebuah grup belajar dan menulis puisi yang termasuk bagian dari Writing Revolution.

118. Puisi Adalah Hidupku

Puisi Adalah HidupkuMelalui sebaris kata, aku ungkapkan sebuah rasa. Kukirim melalui hembusan angin malam. Sebait syair penuh duka Hanya sebait puisi.

119. Merah Darah, Putih Puisi

Merah Darah, Putih PuisiPekik merdeka, hanya lesap nan lekas memuai jika itu cuma lolongan sejengkal dari tenggorokan, sebatas getaran pita suara.

120. Mutiara Relung Hati (Antologi Puisi)

Mutiara Relung Hati (Antologi Puisi)Cobalah maknai setiap mutiara yang hadir dari relung hati mereka, percayalah walau hadir dari berbagai muara ternyata setiap maknanya adalah sebuah keindahan, kedamaian yang akan membawa kembali berkaca pada berbagai peristiwa sepanjang zaman.


Leutika Leutika