slogan leutika prio

Kategori Kumpulan Puisi

101. Syair Hidup Bingkai Hati

Syair Hidup Bingkai HatiBuku ini berisi rangkaian permenungan, untaikan kalbu, senandung nubari yang terbingkai dalam tiga simpul : spiritualitas, duniaku dan untukmu ibu. Hampir semua puisi dalam buku ini adalah pengalaman hidup yang memberikan gambaran pemaknaan cinta yang hakiki. Spiritualitas Sebuah pengakuan akan keberadaan Sang Pencipta, Sang Empunya Hidup dengan kemahakuasaanNYA dengan keberadaan (ku) sebagai ciptaan yang melakukan perjalanan menuju kembali padaNYA. Duniaku dan Warna warni pelangi jiwa Melodi jiwa, nyanyian hati berpadu menjadi rangkaian aksara mencipta kata, ungkapkan cinta pada kehidupan, lontarkan amarah pada negeri, pujian hati dan nyanyian rindu pada kekasih abadi untuk istriku, anak-anakku, Danau Toba alamku dan perjalananku, kuukir dalam gerak langkah puing-puing hati yang tak padu. Untukmu Ibu Senandung duka, nyanyian rindu dan madah pengharapan silih berganti, bercampur kecamuk, bertahta dalam nubari, ketika Ibuku pergi menghadap penciptanya, pada Jumat 9 Desember 2011, pukul 21.00. Banyak air mata, ada tangis harap, dan tersimpul dalam ikhlas yang tiada tara. Berada jauh di Gunungsitoli – Pulau Nias, selama 2 minggu opname sejak 28 Nopember 2011 - tak sempat merawat Ibuku di RSU Pangururan dan RS Adam Malik Medan. Tuhan memanggil Ibuku karena lelah dengan Kanker paru-paru yang diidapnya. Merangkai 75 + 5 senandung batin dalam bongkahan puisi, tersusun dalam mozaik – mozaik warna warni, peziarahan hidup dari seorang pencinta kehidupan, pengagum spiritualitas. Aku ada untuk mu, dalam alunan lagu, dalam tarian jiwa, dalam melodi musik kehidupan...

102. INI MIMPI BUNDA, ANAKKU APA MIMPIMU? ANTOLOGI PUISI BUNDA GURU BERSAMA ANAK DIDIKNYA

INI MIMPI BUNDA, ANAKKU  APA MIMPIMU?  ANTOLOGI PUISI BUNDA GURU BERSAMA ANAK DIDIKNYAKaki Bundamu menginjak bumi Amerika Bergetar jiwa ini Ini mimpiku, Anakku Bunda tegakkan kepala karena doa anak-anakku di bangku-bangku sekolahnya Kutorehkan sejarah Mengukir mimpi-mimpi anak-anakku di Indonesia Agar mereka jadi saksi Bahwa bundanya telah membawa mimpi menjadi nyata

103. Tarian Sang Kembara

Tarian Sang KembaraTarian Sang Kembara merupakan kumpulan puisi bercerita ungkapan ekspresi yang teruntai dari bait demi bait kata mengenai apa yang dilihat, didengar dan dirasakan seorang kembara. Seperti seorang penari jemarinya menari menyusun rangkaian kalimat. Kakinya menari melangkah menyusuri bumi. Melalui matanya ia menari merangkai gambar. Bercerita tentang cinta, kekaguman, kegelisahan, kesedihan, dan kesenangannya kepada alam, saudara, orang tua, teman dan sahabat serta negeri dan masyarakatnya. dalam tariannya ada gelisah yang tertahan dalam tariannya ada sedih yang terkekang dalam tariannya ada air mata yang tak terurai dalam tariannya ada tangis yang kering dalam tariannya ada kemarahan tanpa emosi (Tarian Sang Kembara) wahai tubuh-tubuh yang terbujur diantara nisan-nisan yang membeku wahai tubuh-tubuh yang hilang diantara keperkasaan semeru engkau datang bukan untuk mengantarkan tubuhmu hasrat berpetualang mu yang mengantar mu sampai disini engkau datang untuk belajar memaknai hidup (Kebekuan Nisan Arcapada) tarianku dinanti para penjaja cinta tarianku dinanti pencari kepuasan cinta tarianku dinanti penghisap aroma impian (Tarian Malam) disana ada istana yang megah berdiri juga gedung parlemen berpagar tinggi nun jauh disudut negeri gedung sekolah menanti rubuh setiap detik dipertontolan debat kusir pimpinan negeri setiap waktu diperlihatkan adu pintar pengamat negeri ketika rakyatnya menjadi penonton tanpa solusi (Indonesia Bukanlah Sebuah Negeri Dongeng) kebersamaan yang sesaat menebar makna tak berujung karena dirimulah sang pengobat itu (Ketika Kata Telah Kembali)

104. Kubawa Cinta dari Samosir

Kubawa Cinta dari SamosirPesawatku terbang ke Kota Kembang. Membingkis satu kotak hati bernama cinta. Inilah oleh-oleh terindahku dari pulau Samosir. Kamu. Perjumpaan kita di buritan kapal saat berlayar mengitari danau Toba, hanya seminggu. Dan kukenal kamu hanya sehari Namun dengan cepatnya zat-zat cinta itu bereaksi di tepian hatiku yang kering.

105. untuk sebuah kata.... cinta

untuk sebuah kata.... cintaakan ada saat dimana kamu harus tau…. cinta itu bukan sekedar kalimat dalam sebuah paragraf…. bukan sekedar coretan dari sebuah pena di atas kertas… bukan pula sekedar ucapan manis dari bibir semata…. cinta itu anugerah,anugerah terindah yang di berikan oleh-NYA… kamu tau,rasa cinta yang aku miliki…. tak mampu ku jabarkan dengan kata dalam kalimat yang terdapat di sebuah paragraf…

106. Afasia

AfasiaPuisi pada dasarnya adalah curahan hati. Puisi akan menjadi katarsis ketika ia mampu melahirkan pikiran-pikiran dan perasaan positif dari apa-apa yang menggelisahkan dirinya. Cinta, benci, marah, sedih, senang, cemburu, dendam, sepi, dan lain hal yang ada diri berbaur bagai benda-benda yang berterbangan dalam pusaran angin tofan, pada saatnya puisi akan membersihkannya. Terbitnya kumpulan puisi tunggal munggaran AD. Rusmianto semoga menjadi awalan yang baik untuk kepenyairannya ke depan, dan semoga juga tidak lantas merasa menjadi besar. Selamat. (Ashmansyah Timutiah - Pimpinan Komunitas Cermin Tasikmalaya) Seandainya ingin memahami semua yang tertuang di atas, maka orang yang bergelut dalam dunia Puisi haruslah cerdas dan tahan banting. “Orang ber-Puisi harus memahami tentang kesejarahan Puisi itu sendiri sebab sejarah adalah cerminan Pandora juga cermin untuk penyair”. Dan persoalan ini telah di setubuhi AD Rusmianto (Tatang Pahat, Esais Budaya) Komunitas penulis yang langsung terjun ke wilayah penerbitan, patut diapresiasi dengan serius. Karya-karya mereka acapkali mengejutkan. Kantung-kantung kecil kreativitas itu dijalani dan dihayati AD. Rusmianto. Pada saatnya bisa menjadi lokomotif penarik gerbong-gerbong kreatif komunitas yang bergairah. Perjalanan ekstensial itu ditemukan dalam “Afasia” (Duddy RS. - Pegiat Komunitas)

107. Cinta Bersemi di Rumah Santri

Cinta Bersemi di Rumah SantriMenulis puisi adalah dunia remaja. Ketika datang rasa senang, sedih, apalagi cinta, akan ada kata indah mewakilinya. Ke-101 puisi yang ditulis siswa SMP Ali Maksum bersama pelajar SMP/MTs se-DIY dalam antologi ini adalah bukti anggapan tersebut. A. M. Shochibul Wafa • Abdis Sholikhan • Abyan Habib B. • Aditya Nefa W. • Afara Joharmanik • Agil Manggala Mukti • Ahmad Ali Gabriel • Ahmad Fatih M. • Ahmad Muzammil Wafi • Aflahur Ro’I Sy • Amarta Ghofur • Amyaz Bill Aufaq • Andini Dyah Aryanti • Anisha Anggraini • Ayu Rahmawati • Ayuni Nur Safitri • Bambang Seto Buono • Dian Fadjar Cahyati • Eli Pratiwi • Erni Febri Astuti • Eva Rahmanitami • Faqih Jakha Juantomo • Farhan Masruri Ahmad • Febryz Bagus W. • Gigih Adi Nugroho • Gilang Haidar Najih • Gilang Prakoso • Gita Gerlin • Hana Megrina Nuritasari • Ihza M. Hanifah • Ilham Muzakki • Indar Rosanti • Isbiq Alfi Annur • Karmilawati • Kinasih R. D. • Krishnamurti Akbar Ibrahim • Laily Hidayati • Latifah A. Putri • M. Rifai Ega P. • M. Sidqi Kamal • Miftahurromat Ibnu Qusyairi • M. Mirza Fadil • Muh. Alfan Haitami • Muh. Shalahudin Aulia • Nabila Shafira K. • Noor Laili • Pungky Widiyana Candra Dewi • Qolbiyatul Lina • Reza Aulia Tansri Pratama • Rika Sofwatun Nada • Rina Dwi Putri Ariningtyas • Rizka A. Putri • Rohim Mustofa • Shifiyya Nur Azmi • Siti Hajrah H.A. • Sulistya Hadi • Syafira Dinda • Tahta R. G. Atapukan • Velya Rosita Putri • Vicy Maya • Yoga Dwi Cahya • Yumna Nur Maulida • Zulfa Nur Ratri • Zulfatulngulya I. K. D. Pendamping: Hasta Indriyana • Hermawan B. Santoso • M. Habibi • Uye Kinomoto • Siska Yuniati

108. Senandung Alam

Senandung AlamMungkin akan sampai padamu suatu waktu dalam pelayaran hidupmu negeri yang dibelah sungai Melayu o Melayu

109. Kicau Sepasang Murai Batu

Kicau Sepasang Murai BatuAntologi puisi ini adalah perwujudan perjuangan Sang Murai Jantan. Naluri bertarung Sang Murai Jantan dengan menampilkan segala keindahan yang dimiliki untuk menaklukkan Sang Murai Betina. Dimulai pertemuan pada saat masih duduk di bangku perkuliahan hingga mendapatkan cinta Sang Murai Betina. Penuh nuansa romantis, kegalauan, perjuangan, hingga kehidupan sosial Sang Murai Jantan dan Betina. Ada apa dengan mereka? Inilah, Hadiah Satu Tahun Puncak Rindu mereka berdua.

110. Perjalanan Hati

Perjalanan HatiAku dan kamu seperti pelangi, perbedaan kitalah yang kemudian menjadikan kita sesosok warna yang indah. ~ @PelukisCinta Jika ada pilihan lain selain mencintaimu, hidupku tak akan memilih apa-apa. ~ @Bemz_Q

111. Menantang Waktu

Menantang Waktu"Aku mencintaimu tanpa waktu", satu larik sajak dalam buku ini memperlihatkan gairah muda yang ingin bertarung dengan waktu. Sajaknya mencoba mengatasi yang inderawi dan duniawi, melalui refleksi kental yang sangat terasa filosis. - Agus Noor

112. MERAPIKU, PUISIKU, DAN ORANG-ORANG DI SEKELILINGKU

MERAPIKU, PUISIKU, DAN ORANG-ORANG DI SEKELILINGKUMERAPIKU berisi tentang bencana meletusnya Gunung Merapi beberapa waktu yang lalu hingga kejadian-kejadian pasca-letusan. Tentu saja sebagai puisi, bukan cerita fakta secara fisik yang ada dalam puisi, melainkan sesuatu yang dekat dengan hati.

113. REMBULAN PUN MELAPUK DI RERANTING PERAK

REMBULAN PUN MELAPUK DI RERANTING PERAKMembaca puisi Syukur A. Mirhan membuat saya terpana, terpesona, terlena, terdiam, terpaku, tertafakur .... (Boim Lebon, Sahabat FLP, Penulis Cerita Komedi Anak dan Remaja, Produser RCTI)

114. MONOLOG MATAHARI

MONOLOG  MATAHARIDi sini, kata-kata tak hanya dirangkai, dirajut, tetapi juga mampu hidup dan menghidupkan ruh kesadaran bagi kita. Hakikat hidup dan kehidupan, dalam batas-batas tertentu, dapat terselami dengan puisi-puisi yang tertuang dalam antologi ini.

115. Gempa

GempaBanyak kata-kata bermakna yang indah untuk dinikmati dalam buku kumpulan puisi dan cerpen “Gempa” ini. “Tak dapat dihindari”, menjadi ungkapan rasa bagi setiap insan yang menginginkan cinta sejati.

116. Jemari 7 Penyair

Jemari 7 PenyairBuku antologi "jemari 7 penyair" ini adalah ambisi kami yang tertunda kurang lebih satu tahun. Semoga sumbangsih kami yang tidak seberapa ini, mampu memberi warna bagi perkembangan sastra, khususnya penulisan puisi, di Tanah Air tercinta ini.

117. Musim Mengenang Ibu

Musim Mengenang IbuBuku Kumpulan Puisi 'Musim Mengenang Ibu' ini berisi ratusan puisi Dodi Prananda yang ditulis sepanjang tahun 2008 hingga tahun 2011. Beberapa puisi yang terhimpun dalam buku ini telah dimuat di media cetak. Puisi-puisi dalam buku ini banyak bercerita tentang kecintaan seorang anak pada Ibu dan Ayah; sebab sosok Ibu dan Ayah kerap menjadi inspirasi bagi Dodi dalam menulis. Hal lainnya yang juga diangkat dalam puisi-puisi di buku ini adalah tentang kehidupan Kota Jakarta dan sebagian lagi tentang lingkungan, memoar sahabat dan kerabat, serta cinta. Selain juga pernah dimuat di media, beberapa puisi lain juga pernah meraih sejumlah penghargaan dalam kompetisi puisi baik di level provinsi dan nasional.

118. KUMPUI

KUMPUIBuku ini menarik, dapat memberikan pencerahan bagi setiap pembaca. Buku ini mewakili jati diri pembaca, sebab mengisahkan tentang kehidupan, alam, cinta, pengkhianatan, pemberontakan, kemunafikan dan ketaqwaan hingga kematian.

119. Rembulan Yang Terenggut

Rembulan Yang TerenggutKisah tentang kehidupan, romantika cinta dengan suka duka dan peristiwa tragisnya. Pengalaman spiritual, juga menyajikan cerita sebuah bangsa besar yang dipimpin oleh pemimpin berotak mesum, serta kasus-kasus mega korupsi yang tak terselesaikan.

120. Bingkai Kata - Sajak September

Bingkai Kata - Sajak SeptemberSeptember ini, Aku mengeluh Bahwa kau adalah pelangi Tapi tak bisa kupandangi Bahwa kau rasa Tapi tak bisa kunikmati Bahwa kau Penggenapan kata atas kalimat yang tak terungkap Penyempitan rasa atas asa yang tak tersampaikan


Leutika Leutika