slogan leutika prio

Kategori Kumpulan Puisi

61. Di Serambi Jiwa

Di Serambi JiwaKumpulan puisi renungan dan motivasi, yang ketika Anda membacanya maka seolah jiwa Andalah yang mengeluarkan bait demi bait katanya… dari serambi yang telah tercipta untuk terwujudkan!

62. Sajak Air Mata Bunda

Sajak Air Mata BundaSajakku mewujud dari mata air Air matamu yang berharap Sajakku merangkak dari peluh keringatmu yang bermunajat Berdiri dari nasihat betuah yang berkelebat Sajakku adalah motivasi yang berpendar ke segala penjuru Nadi dan sendi perjuangan cita dan cintaku Kutiriskan semua duka agar kumampu bercerita suka Kusaring semua beban Agar kumampu berkisah masa depan … (Air Mata Bunda)

63. Kado untuk Belahan Jiwaku

Kado untuk Belahan JiwakuAntologi puisi Kado untuk Belahan Jiwaku ini merupakan ”gado-gado” yang diracik dari berbagai ragam peristiwa dan dibumbui dengan kelincahan dalam pengaturan alur cerita, penggunaan diksi yang tepat, dan rima yang mengalun indah dalam indra pendengaran. Semuanya terangkai dalam 70 puisi dengan beragam tema.

64. Senandung Hati Tarian Jiwa

Senandung Hati Tarian JiwaPuisi adalah ziarah batin. Itu sangat terasa dalam buku ini. Membaca puisi-puisinya yang terangkum dalam “Senandung Hati Tarian Jiwa”, serasa menatap mozaik-mozaik pribadi penulis yang religius, cinta tanah leluhur, tulus hormat pada orangtua, suami dan ayah yang penuh sayang pada keluarga, dan santun. Seperti pribadinya, puisi-puisinya tidak bergelora, kadang sederhana, tapi terasa jujur adanya. Dan karena itu, mudah menikmati panorama imajinasi puitisnya. (Nestor Rico Tambunan, Jurnalis, Pengarang ratusan cerpen dan belasan novel, Penulis scenario Sinetron dan Film) Selalu mengesankan membaca sajak-sajak goresan dalam buku ini. Terutama karena makna yang disisipkan mengajak pembaca turut memikirkan dan menelisik pikiran-pikiran dan perenungan yang mengkristal menjadi larik-larik kata yang memikat. Dididik di lingkungan seminari dan ajaran Katolik yang kental, dan sbg staf lembaga humanitarian sekian lama, telah berperan banyak membentuk pola pikir, sikap, dan pemaknaan hidup, esensi kehidupan. Menulis dengan jujur, sublim, itulah unsur penambah kekuatan sajak-sajaknya. Menyenangkan membaca sajak-sajaknya, sebab di tengah minimnya minat menuliskan permenungan kehidupan dan pemaknaan atas pengalaman keseharian, Portunatas sedia melakukan dan membagikannya. Jangan berhenti dan terus menghidupkan kreativitasnya yang merupakan karunia tak ternilai dari ilahi, meskipun sama-sama kita tahu, dia melangkah di jalan yang sepi. (Suhunan Situmorang, penikmat sastra-budaya, praktisi hukum korporasi, penulis novel Sordam, cerpen dan esai-esai bertema sosio-kultural etnis Batak).-

65. Singgah ke Desa Rangkat

Singgah ke Desa RangkatPada tanggal 02 dan 03 Juli 2011 yang lalu, ‘Desa Rangkat’, sebuah komunitas para penulis Kompasiana, telah melaksanakan kopdar pertamanya di Ganjuran, Sumbermulyo, Bambanglipuro Bantul. DI Yogyakarta (di tempat kediaman sesepuh ‘Desa Rangkat’, Bapak E. Astokodatu). ‘Desa Rangkat’ adalah wadah komunitas warga Kompasiana dalam menuangkan segala ide dan imajinasi kreatif akan sebuah desa yang tumbuh kembang bersama rasa Toleransi, Kesamaan, Persaudaraan dan Persahabatan juga rasa Kekeluargaan yang dijunjung tinggi. ‘Desa Rangkat’ merupakan desa yang dibangun dan dibesarkan melalui hati dan rasa dengan prinsip Diskusi Elok Sarat Asah-asih-asuh dalam meRANGkai KATa. Pertemuan ‘Desa Rangkat’ telah dihadiri oleh dua puluh sembilan warga dari berbagai daerah antara lain dari Jakarta, Depok, Bekasi, Bandung, Semarang, Klaten, Temanggung, Situbondo, Jember, Surabaya, Palembang, Makassar, Gorontalo, Menado dan tuan rumah DI Yogyakarta. Mengingatkan kita pada semboyan : “A Happiness is When We Make Somebody Else Happy” (Kebahagiaan hakiki adalah pada saat kita mampu membuat orang lain berbahagia). Semboyan tersebut sarat makna filosofis, yang belum tentu dapat dicerna dengan modal kecerdasan saja. Perlu kebersihan hati dan kepekaan rasa, agar kita bisa berbagi dengan sesama. Maka terbangunglah Desa Rangkat yang awalnya adalah kumpulan RANGkaian KATa, berupa puisi. Kemudian setelah Mommy mengangkatku menjadi Kepala Desa, sekaligus suami dalam setting Desa Rangkat, maka kuusulkan agar Desa Rangkat dijadikan akronim dari Diskusi Elok Sarat Asah-asih-asuh dalam meRANGkai KATa di komp

66. Suara Pelajar (Sehimpunan Puisi Pelajar Pangkep)

Suara Pelajar (Sehimpunan Puisi Pelajar Pangkep)Puisi dalam buku ini merupakan karya pelajar Pangkep yang tergabung dalam Komite Komunitas Pelajar Pangkep (KPLP). Mereka bertemu di tahun 2011 dan sepakat membentuk komunitas, dalam perjalanannya kemudian, pelajar-pelajar ini hendak membuktikan sesuatu sebelum seragam putih abu-abu ditanggalkan. Ada 15 pelajar dari 5 sekolah menengah atas (SMU) dalam proyek ini. Dan, 54 judul puisi telah lahir, jika disatukan, maka akan terkumpul 5.577 kata. Inilah yang hendak mereka buktikan, sebuah buku kumpulan puisi pertama dari pelajar Pangkep Sejatinya, buku ini sudah terbit sejak 2012 silam. Tahun ketika 15 pelajar itu masih mengenakan seragam putih abu-abu. Hanya saja, ada beberapa hal yang memungkinkannya tertunda, banyak sekali, sehingga tak perlu disebutkan satu-satu di sini. Setelah buku ini terbit, 6 dari 15 pelajar penyair itu telah menyelesaikan studinya. Mereka adalah: Arfina Purnama Effendi (SMU Negeri 1 Pangkajene), Raniansyah Rahman (SMA Negeri 2 Pangkajene) Syarifa Nisrinah, Uswatun Hasanah (Pesantren IMMIM Putri Minasatene), Deliama HR dan Fajar Latif (Madrasah Aliya Negeri Pangkep). Tapi, mereka tetaplah bagian dari generasi pelajar Pangkep yang hendak membuktikan sesuatu itu, sesuatu yang tak biasa di kalangan pelajar. Menerbitkan buku. Akhirnya, selamat mengeja 54 judul puisi dari 15 pelajar dari 5 sekolah yang telah bersatu mengumpulkan 5.577 kata. Mungkin inilah suara pelajar itu.

67. Cinta = Indonesia

Cinta = IndonesiaKumpulan puisi dan prosa yang menjadi pintu gerbang menuju harmonisasi rasa dan masa lalu. Apa arti kita tanpa sastra Indonesia?

68. Syair Pengemis

Syair PengemisR ikhsan Saepul Mukhsin (Anggota Ranggon Sastra) “Saya berkomentar sebagai penggiat puisi saja. Bukan ahli! Saya lebih senang menyebut ini sebagai bentuk puisi lama secara struktur, puisi baru secara tema dan diksi. Kumpulan ‘caci-maki’ akan ketidakadilan seolah dikumandangkan disini. Semoga setelah ini diterbitkan kita lebih bijak dalam menyikapi persoalan hidup”. Manah (Pengemis Cibubur) “Ya begini memang adanya, kami tidak memiliki kemampuan untuk bekerja. Sisi kemanusiaan yang kami ketuk untuk menyambung hidup. Hati tidak ingin tapi perutkan tidak bisa kompromi’. Ayyatu Shifa Hasib (Alumni Ponpes Darul Ulum Lido, Sukabumi) “Membaca tiap syair yang ada seolah bernostalgia pada sholawat yang sering saya dendangkan di Pesantren dulu. Sangat luar biasa semua akhir kalimat dapat disamakan rimanya”.

69. Antologi Puisi Cinta

Antologi Puisi CintaAda yang suka dalam cinta yang buta, ada yang luka dalam rindu yang cuka. ~ @fajar_arcana Hujan tak datang-datang. Padahal aku sudah rindu caramu menarikku menari di bawah rintiknya. ~ @Zeventina Seperti tungku tanpa api, aku merindumu dalam sendiri. Remuk aku ditikam-tikam sepi. ~ @semut_nungging

70. Sajak Talibun Bertirai Nusantara

Sajak Talibun Bertirai Nusantara“Dengan antologi puisi Sajak Talibun Bertirai Nusantara ini, mahasiswa membuktikan masih memiliki jiwa nasionalisme dengan cara yang berbeda. Indahnya kata dalam sajak talibun ini memiliki pesona akan harapan masa depan bangsa.” ( Farahdina Intan Dosen PKn ) “Menyindir dengan tulisan terukir, mengkritik dengan kata yang mengelitik. Sebuah bacaan tentang harapan masa depan, membuat siapa saja manggut-manggut saat mebaca tiap bait sajak.” ( Eko Yulianto Dosen Bahasa ) “Kata-katanya berbaris rapi, makna yang terkandungpun tertata sehingga mudah dicerna, bahkan oleh saya yang tidak mengerti sastra. Hidup Nusantara.” ( Liza Antika Dewi Anggota Paskibra )

71. Cahaya di Ujung Lorong Cinta

Cahaya di Ujung Lorong Cinta“Membaca puisi ini membuat saya termenung, tersenyum, dan terkagum hingga lidah ini tidak bisa terucap meskipun ingin menyampaikan sesuatu.” (Hana Nurfiana, penemu cahaya di ujung lorong cinta) “Seperti membuka cangkang kerang. Banyak benih mutiara yang siap dijadikan perhiasan, sungguh menakjubkan kreativitas mahasiswa Unindra.” (Siti Muharomah, Dosen Bahasa dan Guru Seni)

72. Dunia dalam Puisi

Dunia dalam Puisi“Ketiadaan yang membuat ada. Hebaat, tidak memiliki ‘tema’ malah melahirkan ‘tema’ itu sendiri. Antologi puisi dengan beraneka judul “Dunia dalam Puisi”, membuatnya tidak dapat diduga apa yang akan dihadirkan penulis selanjutnya, beda lembar beda kehidupan. Itulah ‘dunia’”. (Yulia Agustin, M.Pd., Dosen Bahasa) “Saya bosan dengan dunia dalam berita, namun jika beritanya disampaikan dalam bentuk puisi sungguh indah terasa. Buku ini menginspirasi untuk membuat program televisi berita dalam puisi. Mengaggumkan.” (Libert Sumirat, Pemerhati Televisi) “Yang dihadirkan tidak melulu tentang cinta, tapi ditulis dengan rasa cinta. Hidup mahasiswa terus berkarya.” (Nur Ummiati, Redaktur Majalah Sutera)

73. Terjebak Misteri Perkawinan Sedarah

Terjebak Misteri Perkawinan Sedarahperkawinan sedarah menjadi malapetaka... tersaruk harta nya yang ternista... terkoyak koyak diambang jendela... jendela yang terbuka menghembuskan udara busuk..menjerit mengutuk... percintaan dan perkawinan sedarah... meninggal kan lubang gelap menganga siap mendorong masuk anak cucu keturunan turun temurun..memikul derita..sial cuma itu yang kau tinggal kan..

74. Aku Bukan Anjing Piaraan

Aku Bukan Anjing PiaraanMelalui buku antologi puisi ini, Anda dapat menikmati keindahan berbagai ragam suasana hati, pikiran, dan perasaan dalam berbagai peristiwa. Setiap puisi disajikan dalam diksi yang pas dan indah. Meresap di sanubari setiap pembaca. Bayangkan! Melalui 70 judul puisi, Anda akan mencicipi berbagai ’citarasa’ pikiran, perasaan, dan emosi di dalam perjalanan hidup anak manusia. Mulai dari rasa gusar hingga cinta asmara. Dari dukacita hingga sukacita. Dari kesuksesan hingga kegagalan. Dari kekecewaan hingga doa dan harapan. Dari yang jenaka hingga yang sinis. Dari bencana hingga keindahan alam. Dan masih banyak lagi. Pendek kata, melalui buku ini Anda bebas berpetualang dari satu peristwa ke peristiwa yang lain. Meniti keindahan demi keindahan. Melanglang dari satu suasana hati ke suasana hati yang lain. Anda bisa ikut larut dalam duka, tersenyum simpul, mengangguk, mengelengkan kepala, merasa tergelitik, bahkan tergelak dalam bahak. Dituturkan dalam bahasa yang apik, alur ceritera yang jelas dan mudah dipahami. Cocok dibaca oleh para pelajar, karyawan, kaum awam, atau siapa pun yang ingin membuka wawasan dan memberikan apresiasi terhadap sastra Indonesia, khususnya puisi. Nah, tunggu apa lagi? Jangan pernah bilang ’Nanti’. Bacalah antologi puisi Aku Bukan Anjing Piaraan ini sekarang juga!

75. Aku dan Duniaku (Antologi Puisi: Tentang Rasa)

Aku dan Duniaku (Antologi Puisi: Tentang Rasa)Buku ini lahir karena pertemuan dua anak manusia, yang terjadi bukan karena kebetulan, bertemu saat kopi darat karena senang mendengar program radio, mereka menderita insomnia, dari pertemuan itu, dan komunikasi maka cerita sayair ini terkumpul menjadi elegi cinta, 50 puisi tersaji di buku ini, tentang cinta, arti persahabatan, hubungan dengan alam, dan meditasi pribadi dengan sang Pencipta. Tentang Rasa Kendati perpisahan bukan akhir segalanya Kendati pertemuan awal segalanya Jangan tangisi perpisahan tapi tangisilah pertemuan… Perpisahan kalah membuat kita rindu Pertemuan kalah membuat bahagia Selama di atas bumi masih ada langit Disinilah manusia dipertemukan

76. 99 Puisi Tanpa R

99 Puisi Tanpa RSemua orang mungkin bisa untuk menerima segala kekurangan yang diberikan Tuhan kepada diri namun, tidak semuanya mampu untuk mengubah dan menggubahnya menjadi anugrah. Keterbatasan yang dimiliki penulis tidak berhasil menghambat kinerja imaginasinya untuk menetaskan karya yang bersumber dari apa yang dianggap sebagai kekurangan. Buku "99 Puisi Tanpa R" ini sepintas sama dengan puisi-puisi lainnya, ingat jika "sepintas", namun lain halnya jika pembaca meluangkan sedikit hati untuk menyerap rasa y

77. The 14th: A Wall to Remember

The 14th: A Wall to RememberThis is it! We finally made it, "The 14th: A Wall to Remember." The collection of English poems of Teacher and 14th year Students of Senior High School 2 Sekayu, South Sumatera, Indonesia. For Love, Life, Lost, and Laugh, may it will be Candle in the Jungle.

78. Love Lust Heartbreak

Love Lust HeartbreakPeople get... tumbled in LOVE, caught in LUST, stranded in HEARTBREAK. We don’t get to choose with whom, when or even where. Sometimes, we’re nothing but slaves of our own emotions. We are not always able to conquer these forces, yet we are entitled to find our solace. So, here with some paper and ink, I have decided to write them...

79. Bukan Cinta yang Buta, Engkaulah yang Buta

Bukan Cinta yang Buta, Engkaulah yang ButaOrang yang dicintai selalu nampak indah bagi yang mencintainya. Cinta menutupi seluruh kekurangan diri orang yang dicintai. Apa pun yang orang katakan kepadamu tentang orang yang engkau cintai, engkau tutup mata dan telingamu, karena orang yang tercinta adalah sosok yang sempurna di matamu. Jika engkau membayangkan dan membicarakan orang yang dicintai, kau tak akan membicarakan kekurangannya. Pijaran api pun kalau perlu kau padamkan untuk menutupi kelam pada sosok yang tercinta. Kau tahu,

80. Lukisan Jiwa Manusia

Lukisan Jiwa ManusiaPuisi adalah tulisan yang terukir indah serapan perasaan. Dengan yakin kita dapat menuangkan isi perasaan kita pada goresan tinta. Dengan puisi kita dapat bebas menuangkan buah pikir kita, perasaan resah, gundah, maupun senang yang menyelimuti diri. Puisi, serapan perasaan yang mengantarkan khayali ‘tuk indah dibaca dan dilantunkan. Dalam menulis puisi dibutuhkan imajinasi. Imajinasi yang melekat pada diri setiap insan pastilah berbeda. Itulah yang membuat puisi satu dengan yang lainnya tak sama


Leutika Leutika