Kategori Travelling

Ini adalah buku ke-4 tentang Singapore, di mana aku melakukan perjalanan yang ke sekian kalinya berkeliling Singapore untuk research, merasakan, dan mengamati bagaimana Singapore benar-benar nyaman dan aman bagiku, sebagai disabilitas.
Terima kasih yang tidak terhingga bagi Tuhan YESUS-ku, yang selalu memberikan jalan yang mudah, aman, dan nyaman untuk melakukan apa yang aku ingin ceritakan kepada dunia tentang kebutuhanku sebagai disabiitas di atas kursi roda untuk keliling dunia.
Aku sangat berterima kasih kepada sahabat-sahabatku yang selalu membantuku dari pemesanan hotel di sana, antar jemput serta menemani di saat-saat tertentu ke area-area baru demi aku.
Peluk hangat untuk sahabatku Mas Kardy Chiu dan Andry Halim yang benar-benar tulus membantuku, padahal mereka sibuk dengan segala macam kegiatan mereka dari bekerja dan kegiatan-kegiatan lainnya, tetapi disempatkan luar biasa untukku.
Tidak berlama-lama, silakan membaca buku ini, sebuah hasil research-ku yang kujabarkan dengan bercerita untuk bisa dipahami oleh anak-anak sekalipun.
Salam inspirasi,
Chritie Damayanti
Penulis

Sekali lagi, sebuah buku yang kutulis berhubungan dengan penghargaanku kepada Singapore. Sebuah negeri mungil, di mana aku sangat “iri” dan termotivasi untuk terus mengeksplore semuanya dan menjadi lebih serius tentang pembelajaran dan pemahamanku tentang sebuah KEPEDULIAN.
Pertama, rasa terima kasihku untuk yang keseribu kalinya adalah untuk Tuhan YESUSku. Karena DIA lah, aku tetap bertahan dengan komitmenku untuk terus membangun Indonesia, dengan caraku.
Kedua, siapa lagi kalau bukan sahabat-sahabatku di Singapore dan malaikat-malaikat penjagaku di sana, Mas Kardy Chiu dan Andry Halim. Mereka lah yang terus mengajakku ke mana-mana untuk mengeksplore Singapore, jika mereka punya waktu, tetapi, mereka memang selalu punya waktu untukku.
Tentu saja, terima kasihku untuk semua pihak yang terus memberi dukungan untukku, seorang perempuan setengah baya yang duduk di kursi roda karena tubuh kanan lumpuh karena terserang stroke, tetapi tetap fokus dan berkomitmen untuk membangun dunia, terutama Indonesia, dengan caraku bersama Tuhan.
Salam inspirasi,
Chritie Damayanti
Penulis

Puji syukur kepada Tuhanku Yesus, setelah traveling untuk research serta pengamatan di Eropa selama 1,5 bulan pada September dan Oktober tahun 2023 lalu, aku juga sudah menyelesaikan buku pertama tentang ke Eropa ini, dan menjadi buku ke-78 dari kesemua buku-buku yang sudah aku tuliskan.
Betapa aku berusaha untuk menyelesaikannya, karena banyak sekali pengalaman-pengalaman serta inspirasi-inspirasi luar biasa jika aku berpetualang. Dengan kursi roda elektrikku, Tuhan membawaku untuk terus berjuang bagi disabilitas Indonesia karena hasilnya memang untuk bisa menjadikan Indonesia lebih peduli.
Terima kasih juga untuk Mba Cisca yang membawaku berpetualang lebih jauh, tanpa aku tahu apa yang akan terjadi, blusukan ke kota-kota kecil di Belanda yang menjadi salah satu sumber inspirasiku.
Buku pertama ini akan menjadi awal dari buku-buku selanjutmya tentang traveling di Eropa, yang segera akan bisa dinikmati pembaca karena tidak akan ada yang menulis demikian karena konsep penulisanku bersumber dari kepedulian dan perjuanganku bagi disabilitas Indonesia.
Praise the Lord JESUS.
Salam inspirasi,
Christie Damayanti

Cutinya di-approve selama satu bulan! Jarang-jarang karyawan bisa cuti sebulan penuh tanpa diganggu kerjaan sama sekali. Dia menggunakan waktu cuti itu untuk keliling beberapa negara Asia Tenggara: Malaysia, Singapura, Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Laos. Buku ini menceritakan sebagian besar dari perjalanan itu.
Ternyata, tidak sulit untuk bisa keliling negara orang sendirian di zaman sekarang, asal punya jaringan yang bagus untuk bisa akses Google Maps! Tidak perlu lancar-lancar amat Bahasa Inggris-nya karena ada Googe Translate! Toh, orang sana juga banyak yang tidak bisa Bahasa Inggris. Perjalanan selama sebulan ke enam negara itu, tidak sampai Rp20 juta. Terinci ada dalam buku ini.
Banyak pengalaman menarik yang bisa berbeda tiap kota: ramainya orang Indonesia di KL, banyaknya burung gagak di Melaka, disandera imigrasi Singapura 18 kali, ketemu teman kamar hostel dengan tato sebadan-badan waktu di Hatyai, ketemu ganja legal di Thailand, bisa pakai tiga mata uang di Poipet, kagok dengan jalan di kanan dan setir di kiri mobil, dapat cerita gimana Vietnam bisa kalahkan Amerika, susahnya cari makanan halal, ketemu orang Indonesia yang jaga hostel di Vientiane, dan masih banyak lagi. Rencana ke Myanmar dicoret karena masih ada konflik internal.
Buku ini menarik karena penulis mendeskripsikan apa yang dialaminya dalam perjalanan, sehingga pembaca seakan-akan ikut dalam perjalanan. Hal serupa pernah dilakukan penulis, jalan-jalan keliling Sumatera selama tiga bulan, yaitu tahun 2012. Catatan perjalanannya diabadikan dalam buku

Dari ceritaku sejak awal sampai saat terakhir ini tentang Penang, apa yang akan aku tuliskan sebagai penutup?
Pertama, bahwa Peang memang sebuah kota yang bagiku merupakan tempat pemenuhan ekspresiku tentang sebuah sahabat dan keluarga. Bahwa, Leong Khong Ming, memang awalnya hanya bertemu sekedarnya di Jakarta di dunia filateli. TEtapi, dari dialah aku mempunyai keluarga baru di Penang dan Sungai Petani, Kedah,
Leong Khong Ming, menjadi kepanjangan Tangan Tuhan sebagai sahabat dan keluarga bagiku, Ketika aku melawat ke Pengan dan Sungai Kedah, dimana saat itu aku memang sedang galau tentang kesendirianku sebagai seorang perempuan setengah baya tanpa keluarga bahkan anak2ku tidak ada di sekelilingku.
Walau imi hanya sekedar ceritaku yang hanya 9 hari disana tetapi sudah cukup membuktikan tentang bagaimana Penang tidak membuat aku ingin datang lagi, jika pelayanan warganya cukup buruk untukku …..
Mungkin, ceritaku ini lebay bagi pembaca tetapi sangat mendalam untukku. Karena, tulisan2ku di mana2 dan di berbagai buku2ku tentang wisata adalah sebuah cerita yang aku alami sendiri sebagai seorang perempuan separuh baya dengan kursi roda ajaibku, berkeliling dunia untuk membuktikan banyak hal.
Salah satunya adalah traveling ke Penang yang membuat aku sadar bahwa dunia meamng Sebagian masih belum ramah tentang kepedulian dan disabilitas dan prioritas, dan Sebagian lagi aku juga bisa membuktikan bagaimana mereka sangat ramah dan membuat aku betah untuk Kembali lagi kesana ……
Penang,
Kenangan terbesarku selama aku disana adalah kehidupanku Bersama keluarga besar Leong Khong Mimg. Penyambutan dan pelayanan mereka, memberikan kenyamanan dan kebahagiaan ku sebagai tamu asing, dari negeri tetangga …

Ini adalah catatan perjalanan seorang karyawan biasa dalam mendaki gunung. Dia menggunakan waktu weekend atau waktu cutinya untuk mendaki. Sepanjang 2022, sebanyak 19 gunung didakinya. Buku ini menceritakan sebagian besar dari perjalanan itu.
Banyak profesi dan karakter yang dia temui. Ada dokter, pengacara, perawat, arsitek, pramusaji, tukang nasi goreng, tukang ojeg, juru ukur tanah, pengangguran sukses, mahasiswa, siswa, pemain sinetron, pustakawan, instruktur yoga, wah macam-macam deh. Kalau karyawan kantoran mah ya banyak banget.
Juga pengalaman menarik yang bisa berbeda tiap gunung: Ojeg Sumbing dengan penumpang di depan, porter Rinjani dengan pikulan dan sandal jepitnya, rantai ban ojeg Argopuro, macetnya jalur pendakian Gede, babi ganas (bagas) Ciremai, perosotan di jalur Burangrang, dan masih banyak lagi.
Buku ini menarik karena penulis mendeskripsikan apa yang dialaminya dalam perjalanan, sehingga pembaca seakan-akan ikut dalam perjalanan. Hal serupa pernah dilakukan penulis, jalan-jalan keliling Sumatera selama tiga bulan, yaitu tahun 2012. Catatan perjalanannya diabadikan dalam buku
.jpg)
Ini adalah catatan perjalanan seorang karyawan yang memilih untuk tidak bekerja sementara, demi bisa fokus jalan-jalan. Sepanjang April 2019 dia jalan-jalan keliling Nusa Tenggara.
Kebanyakan orang hanya mengenal Lombok dan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata di Nusa Tenggara. Tapi sebetulnya masih banyak yang bisa dieksplor, misalnya Pulau Bungin di Sumbawa yang digadang-gadang sebagai pulau terpadat di dunia. Pulau Moyo yang begitu dijaga alamnya oleh penduduk lokal, sehingga pendatang yang berniat merusak, akan disuruh pulang.
Tidak sedikit pantai yang kalau kita ke sana, seperti bukan di Indonesia, karena justru lebih banyak bulenya daripada orang Indonesia. Setidaknya ada pantai di trio Gili di Lombok, Pantai Lakey, Pantai Kuta, dan Pantai Selong Belanak.
Dalam perjalanannya, penulis menemukan banyak hal di luar dugaan, seperti tiadanya makanan bertarif lokal di Moni (desa sebelum Danau Kelimutu), mahalnya tiket masuk Pulau Rinca yang dikenakan ke bule, ramainya bule dari satu dunia di Gili Trawangan, murahnya harga ikan di Solor, timpangnya kehidupan warga di Timor Leste dibanding di Atambua. Dan seterusnya....
Buku ini menarik karena penulis mendeskripsikan apa yang dialaminya dalam perjalanan, sehingga pembaca seakan-akan ikut dalam perjalanan. Hal serupa pernah dilakukan penulis, jalan-jalan keliling Sumatera selama tiga bulan, yaitu tahun 2012. Catatan perjalanannya diabadikan dalam buku

Buku “Ketika Aku Memperkenalkan Bayiku kepada Benua Kangguru”, ini adalah sebuah contoh inspirasi bagi keluarga-keluarga muda untuk bisa mulai memperkenalkan anak-anak mereka tentang dunia, lewat banyak hal.
Dennis belajar banyak sekali untuk bisa meresap semua makna dalam perjalanan kami saat itu, tahun 1997 di Sysney dan di Melbourne.
Dan, ketka aku bertanya kepada Dennis yang bicaranya masih cadel saat itu,
“Nis, kamu suka ya? Lebih suka koala atau kangguru?”
“Mama, aku uka koala. Gemeeeessssss ….”, jawabnya sambil giginya bergemeletuk ….
Hahahaha …..
Setelah ke Waratah Park melihat koala dan kangguru, dia merengek untuk bermain lagi bersama koala-koala lucu. Sehingga kami harus ke mall untuk berfoto dan membeli beberapa boneka koala untuknya …..
Sebuah perjalanan yang sarat makna dengan membawa bayiku, untuk bisa mulai melatih diri sebagai warga dunia ……
Semoga di masa datang, Dennis menjadi lebih mandiri sesuai dengan didikanku sebagai warga dunia, dan memang terbukti demikian …..
Catatan :
Dennis sekarang, berumur 25 tahun di tahun 2021 dan dia sudah bekerja. Serta dia sudah dewasa dan travelling ke beberapa Negara Asia, tanpa bantuanku. Didikanku, mampu membuat dia sangat mandiri.

Buku “Jejak Nostalgia” tentang travelling di Eropa,
merupakan kenangan manisku bersama bapak ibu
dan kedua adik-adikku, ketika kami masih remaja. Banyak
sekali kenangan sehingga aku ingin mengabadikannya
lewat beberapa buku.
Terima kasih atas bantuan-bantuannya untuk bisa
mewujudkan buku-buku ini, salah satunya adalah Kompasiana.
Di mana, di blog ini aku bisa memamerkan karya-karya
tulisanku, dan Kompasiana akhirnya menjadi etalaseku.

Buku ini adalah cerita dan tulisan-tulisanku tentang
“Jejak Nostalgia”, yang sayang jika tidak dibaca. Dan, ada
2 buku yang lain, tentang Jejak Nostalgia di Eropa, zaman
dengan keluargaku dan zaman aku sering tugas pekerjaan.
Karena menurutku, banyak terdapat pengalamanpengalaman
yang menarik bagiku, seorang arsitek, yang lebih
memilih mengamati dan menyurvei berbagai jenis kehidupan,
dibanding dengan berbelanja, ketika hari-hari yang merupakan
“hari libur” dan bisa berbelanja, di saat-saat bertugas di Eropa.

Sebuah “Jejak Nostalgia” yang luar biasa, Tuhan berikan
untukku, khususnya.
Buku ini aku tuliskan, awalnya karena aku kangen kepada
kedua orang tuaku, yang keduanya sudah berada di Rumah
Tuhan. Tidak berpikir akan menjadi sebuah buku. Tetapi,
ternyata Rencana Tuhan berbeda. Tulisan-tulisanku tentang
kekangenanku terhadap suasana seperti yang aku tulisakan
dalam buku ini, menjadikan sebuah inspirasi baru, mengapa
tidak aku jadikan serial “Jejak Nostalgia” bersama kedua orang
tuaku dan kedua adikku, ketika travelling ke Inggris Raya?

Buku ini, mengulas bagaimana aku dan kedua anakku berwisata ke Eropa. Setelah di Amsterdam, kami beranjak ke kota2 sekitaran Amsterdam, seperti Rotterdam, The Haq, Madurodam dan Delft. Bahkan, kami berkeliling di Brussels, salah satu Negara tetangga Belanda.
Buku ini memang sebuah buku wisata tetapi bukan sekedar wisata saja.
Dan semoga buku ini bisa menginspirasi banyak orang bahwa seorang insan pasca stroke dengan lumpuh separuh tubuh sebelah kanan dan duduk diatas kursi roda, juga seorang 'orang tua tunggal', tetap mampu melakukan aktifitas seperti biasa walau terbatas, dan juga mampu untul mewujudkan mimpi2 nya, jika selalu SEMANGAT, BERUSAHA sambil BERDOA, tetap PERCAYA dan selalu BERSYUKUR, karena terserang stroke bukan akhir dari segalanya .....

tidak panjang lebar,aku berharap buku ini mampu menginspirasi banyak orang,terutama bagi insan pasca stroke,untuk terus berusaha menggapai mimpi-mimpi mereka,seperti aku mampu untuk meraih impianku untuk berkeliling Eropa bersama anak-anakku.

Buku ini, mengulas bagaimana aku dan kedua anakku berwisata ke Eropa. Pertama kali kami berada di Belanda dan di Volendam. Bersama dengan sahabat keluarga kami, Arie Zonjee, kami mengeksplore Amsterdam, ibukota Belanda, dengan sangat luar biasa!
Buku ini memang sebuah buku wisata tetapi bukan sekedar wisata saja.
Dan semoga buku ini bisa menginspirasi banyak orang bahwa seorang insan pasca stroke dengan lumpuh separuh tubuh sebelah kanan dan duduk diatas kursi roda, juga seorang 'orang tua tunggal', tetap mampu melakukan aktifitas seperti biasa walau terbatas, dan juga mampu untul mewujudkan mimpi2 nya, jika selalu SEMANGAT, BERUSAHA sambil BERDOA, tetap PERCAYA dan selalu BERSYUKUR, karena terserang stroke bukan akhir dari segalanya ....
.jpg)
Fiiiuuuuhhhhh …………
Pengalaman2 ku di Amerika, sungguh menarik, bukan?
Dari NASA, pesawat America Airline, bertemu dengan “Lucky Luke”, Benteng Alamo, bahkan makan di “The Hooters”, sebuah restaurant yang dilayani oleh gadis2 cantik dengan baju2 minim ……
Bahkan, kisahku terakhir tentang badai yang melanda penerbanganku dari Dallas ke Jakarta, tahtun 2017 lalu adalah pengalamanku yang paling mengerikan sekaligus yang sangat luar biasa!
Badai mengguncang pesawatku, sampai aku pasrah dan berserah jika pesawatku jatuh. Tetapi Tuhan berkehendak lain, sehingga sampai sekarang aku masih ada dan menuliskan cerita ini untuk sebuah inspirasi.
Buku ketiga tentang Amerika ini, bukan buku terakhir tetapi akan ada lagi buku2ku tentang Amerika setelah ini.
Termasuk tentang East Coast, Pantai Timur Amerika yang terkenal tentang dunia keperintahan Amerika Serikat …..
Amerika memang sebuah dunia yang unik ……
.jpg)
Jepang terkenal dengan sebuah negeri dengan segalam macam misterinya, karena negeri cantik itu merupakan negeri tua serta dengan segala macam ceritanya.
Salah satuya adalah kota Chichibu, yang sangat terkenal dengn manga dan anime Anohara, serta cerita “rumah berpindah” yang dimundurkan beberapa meter untuk festival2 besar di Chichibu.
Chichibu terletak di lembah hutan pegunungan, cukup terpencil, tetapi mampu mengundang jutaan wisatawan dunia denagn festival2nya.
Lalu, ada sebuah Hutan Aokigahara yang menjadi buah bibir dunia, sebagai tempat favorite bunuh diri yang terkenal, setelah jembatan Golden Gate di San Francisco.
Terletak diperjalanan ke puncAK Gunung Fuji, Kawaguchiko, Hutan Aokigahara sunggu berlokasi cukup dekat dari kota Fujukawaguchiko, di kaki Gunung Fuji.
Sedangkan, Narusawa Village yang terkenal denagn kolam purba nya pun, tidak terlepas dari misteri Jepang, karena kolam purba itu memang sudah berumur ribuan tahun, yang pastinya mempunyai cerita2 tersendiri disana.
Semua misteri2 Jepang, yang sungguh membuat aku cukup penasaran, karena tidak ada solusi dari referensi2 yang aku baca …..
.jpg)
Tidak mudah, untuk aku melepas dia pergi, ke negeri impianmya. Ke sebuah negeri cantik, dan mahal serta sebenarnya aku tidak bisa membiayainya.
Tetapi, mimpinya meamng sudah mendekam di sanubarinya, sejak TK. Tidak mudah untuk dia melupakannya, walau saat2 terakhir sebelum dia terbang kesana pun, aku sempat “membujuknya” untuk tidak terbang …..
Pada kenyataannya, Tuhan memang punya rencana tersendiri …..
DIA tetap mau anakku terbang ke Jepang,
DIA memprosesnya dengan luar biasa,
DIA terus membawa anakku dalam Kepakkan Sayap NYA,
Dan, DIA membantuku untuk pendewasaanku sendiri,
Bahwa,
Ketika kita terus percaya pada lingkaran Kasih NYA, dan ketka kita juga percaya bahwa seorang anak akan menjadi luar biasa jika kita memberinya kesempatan, itu akan benar2 terjadi.
Aku sudah melihat dan merasakannya,
Aku benar2 menyaksikannya,
Bahwa, Tuhan memang sangat luar biasa ……
.jpg)
Singapore adalah negara kecil yang terdekat dari Indonesia.
Dan Singapore merupakan tempat aku belajar mandiri, ketika aku sebagai pasca stroke dan ingin belajar untuk traveling ke luar negeri, karena sebagai insane pasca stroke, otakku tidak boleh menerima tekanan besar, jika aku terbang tinggi dank e Negara yang jauh.
Singapore lah yang memberikan tempat yang nyaman untuk belajar. Ruang inklusi di ruang2 publik, dengan fasilitas2 ‘ramah disabilitas’, adalah pelajaran pertama bagiku sebagai disabilitas pemakan kursi roda.
Pada kenyataannya Singapore mengan sebuah negeri wisata, walau tidak menjadi tempat belanja sekarang ini, tetapi Singpaore tetap lah sebuah negeri yang terus berkembang dan berusaha untuk membangun berjenis2 wisata yang menawarkan kenyataan yang membahagiakan.
Dan Singapore pun, terus akan menjadi negeri untuk sebuah inspirasi ……

Sebenarnya, bukan hanya ke Kamakura atau ke Minami Funabashi saja aku bersama Michelle, di musim panas di Jepang tahun 2019 lalu.
Aku juga bersama2 dengan Michelle, ketika seharian kami dijemput oleh atasannya di Seven Eleven, Mr.Sugiyama untuk berlibur di Kawaguchiko dan Narusawa Villake serta Yamanaka Lake.
“Quality time” dengan Michelle ke “rumah Doraemon”, di Museum Fujiko F.Fujio, di Kwasaki. Dimana Michelle bersuka ria di tempat Doraemon, temat yang diidam2kan sejak dia masih duduk di sekolah taman anak2.
“Quality Time” ku dengan Michelle malaikat kecilku, tidak berhenti sampai disini saja.
Dengan masak memasak di apartemennya, serta kemanjaan dengan meminta aku membelanjakannya bahan2 makanan untuk dimasak, atatu sekedar membuatkan susu di pagi hari sebelum dia kuliah, atau dimalam hari sebelum dia tidur sambil kupeluk, itu merupakan kebahagiaan utamaku, ketika aku menjenguknya di Jepang setiap 3 bulan sekali.
Jadi, tidak ada kata berhenti untuk ber-“quality time” antara aku dan anakku Michelle. Kami akan selalu bersama …..

Untukku, Amerika Serikat adalah sebuah negara adidaya, tempat aku bermimpi. Sejak pertama kali aku ke Amerika Serikat tahun 1982, ketika aku masih SD, papaku memberikan ban yak mimpi2 indah tentang Amerika.
Adik2ku sendiri menyelesaikan S2 nya di Amerika, sedangkan aku hanya di Jakaarta dan sebagian lagi di Australia. Dan, Amerika Serikan benar2 menjadi salah satu tempatku “berlabuh”, setelah salah satu adikku bermukim disana sejak tahun 1994 lalu.
Buku keempat ini, tentang perjalanan dan pengalaman ku di Pantai Timur atau East Coast, aku menuliskan pengalaman ku bukan dari 1 masa saja.
Mulai ketika aku berkeliling sendirian di sana tahun 1993, juga ketika aku dengan kedua orang tuaku, juga di tahun 1993, berkeliling antara Boston, Washington DC dan New York City.
Kemudian, ketika aku sudah berkeluarga dengan 2 anak2ku yang masik balita, kami berkeliling di Florida tahun 2000.
Konsep2 pengajaran papa ku tentang sebuah mimpi, tercipta di benakku dan benar2 aku mampu meraihnya, Apalagi, konsep2 ini aku berlakukan juga untuk menggapai mimpi2ku tentang masa depan anak2ku.
Dan, East Coast memang salah satu pencapaian mimpi2 ku ……