slogan leutika prio

Christie Damayanti

Christie DamayantiE-Mail: christie.suharto[aT]yahoo.com

Seorang stroke & cancer survivor, arsitek, motivator, filateli dan pemerhati Jakarta. Terus berkarya walau dalam keterbatasan sebagai insan pasca stroke dengan lumpuh ˝ tubuh sebelah kanan.




Daftar Buku

Jumlah buku:21

16. Bangkit dari Belenggu Stroke
Bangkit dari Belenggu StrokeMemang tidak gampang untuk membuat diri kita yang sedang terpuruk, untuk melaju dalam pemulihan. Minimal kita membutuhkan motivasi diri, selain dukungan penuh dari keluarga dan lingkungan kita. Bahwa untuk bisa bangkit lagi, yang berperan penuh tidak lain adalah diri sendiri karena jika orang lain membantu tetapi diri sendiri tetap bergeming, hasilnya akan sama saja. Sebagai insan pasca stroke selama sekitar 6,5 tahun ini, aku berjuang untuk tetap hidup dan berkarya. Selain untuk memberikan yang

17. Meneropong Jakarta dari Hati Nurani
Meneropong Jakarta dari Hati NuraniHidup di Jakarta itu memang tidak gampang. Bukan hanya karena Jakarta adalah ibu kota negara dan penuh sesak dengan warga masyarakat serta perpaduan budaya lokal dan internasional—karena Jakarta sudah berada dalam ‘kota dunia’ saja—, tetapi karena Jakarta sekarang lebih menonjolkan pembangunannya secara fisik, meskipun belum melihat kenyamanan apalagi kemanannya. Sebagai arsitek dan urban planner, saya sangat terobsesi untuk memperbaiki Kota Jakarta sebagai tempat tinggal yang nyaman. Saya buk

18. Pelangi Dunia Filateliku
Pelangi Dunia Filateliku“You Never Know Whom Will You Meet in Your Life" “Kita tidak pernah tahu, siapa yang akan kita temui dalam perjalanan hidup kita. Kita juga tidak pernah tahu, apa rencana Tuhan bagi kita. Kita juga tidak pernah tahu, bagaimana Tuhan akan "bekerja" untuk kita. Oleh karena itu, BUKALAH HATI KITA SELEBAR-LEBARNYA UNTUK KASIH TUHAN, karena DIA akan selalu memberikan kita masa depan yang gemilang”. Ketika aku mengalami keterpurukan karena terserang stroke tahun 2010 lalu, Tuhan membalikkan hidupku

19. Dari Kompasiana Menuju Istana
Dari Kompasiana Menuju IstanaBuku ini adalah hasil kolaborasi dari Kompasianers yang hadir dalam acara makan siang bersama Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Ditulis oleh penulis yang berasal dari berbagai keragaman: suku, budaya, agama, dan latar belakang pendidikan, serta pengalaman hidup yang berwarna. Buku ini adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan rasa terima kasih kepada Presiden; sekaligus apresiasi untuk Kompasiana, di mana para penulisnya bernaung. Tentu juga sekaligus merupakan apresiasi kepada Kompasia

20. Cinta yang Tertinggal di Swiss dan Liechtenstein
Cinta yang Tertinggal di Swiss dan LiechtensteinDi buku pertama, dari Belanda dan berlanjut ke Belgia, kami pun merebak ke negara-negara yang lain. Swiss adalah negara ketiga, dari 7 negara yang akan kami datangi. Di Swiss, kami mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan. Dari berwisata di Gunung Titlis bersalju abadi, sampai ke rumah Heidi, seorang gadis kecil penggembala kambing bersama Peter. Dari keliling danau Zurich yang besar dan berair biru jernih seperti langit, sampai ke 'Kebun 1000 Mawar' di kota Rapperswil yang berada di sebuah kastil cantik yang mungil. Cerita di Swiss berlanjut ke Liechtenstein, sebelum Tuhan menumbuhkan Imanku untuk terus percaya pada NYA, ketika masalah besar menghadang kami. Dimana ketika itu kami di 'belantara' Eropa tanpa ada yang kami kenal, tetapi kami hanya mempunyai ratusan Euro, sementara kami baru berada di negara ketiga dari 7 negara yang akan kami datangi. Tetapi cinta Tuhan terus bersama kami. Dan cinta itu lah yang memberi kami kenangan yang tidak terlupakan sebagai anak-anak Tuhan, untuk tetap percaya tentang Kuasa NYA serta Kasih NYA dalam hidup kami. Swiss dan Liechtenstein, adalah salah satu bukti tentang ke-dasyat-an Kuasa NYA, dan cinta itu tetap keukeuh berada di hati kami, lewat perjalanan kami melanglang di Eropa, dengan aku berada di atas kursi roda bersama kedua anak-anakku ..... Swiss dan Liectenstein,tunggu kami menjemput cinta itu kembali ......


Leutika Leutika