slogan leutika prio

Katalog Buku

301. Dapat Apa Dari Puasa: Sebuah Renungan Tentang Hakikat dan Tujuan Puasa

Dapat Apa Dari Puasa: Sebuah Renungan Tentang Hakikat dan Tujuan Puasa”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183) Bulan Ramadhan sudah datang lagi. Satu hal yang perlu dicamkan, hendaknya kita tidak terjebak pada rutinitas kedatangannya. Kita harus mulai menghayati apa kira-kira maksud kegiatan yang kelihatannya sepele seperti tidak makan dan tidak minum itu, serta bagaimana hubungan puasa dengan taqwallah itu bisa dijelaskan. Buku Dapat Apa Dari Puasa ini bermaksud untuk menyuguhkan sebuah renungan tentang hakikat dan tujuan puasa. Puasa sebenarnya adalah media pelatihan pengendalian diri (self control training). Jika puasa sudah dilakukan dengan benar, maka puasa akan memberikan pengaruh yang begitu dahsyat, yaitu latihan untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Itu berarti puasa membentuk mental taqwallah yang tinggi. Hal itu disebabkan karena selama menjalankan ibadah puasa, seseorang memang dilatih untuk bertaqwa. Ketika orang yang berpuasa sudah bisa melaksanakan ketentuan-ketentuan di dalam puasa, maka puasa akan menjadi sebab munculnya taqwa di dalam diri orang yang berpuasa itu. Inilah yang dimaksudkan ‘taqwa sebagai tujuan puasa’ dalam QS. Al-Baqarah Ayat 183. Istilahnya, taqwa itu jugalah sebenarnya yang didapat dari puasa... *** “Puasa yang selama ini dipahami hanya ritual saja, maka dengan membaca buku karya Achmad Sjamsudin ini kita akan tahu hakikat dan manfaat puasa.” KH Abdurrahman Navis Lc MHI, Ketua Bidang Fatwa MUI Jawa Timur

302. DARI BIROKRASI YANG MELAYANI MENUJU BEBAS KORUPSI DI KONAWE SELATAN

DARI BIROKRASI YANG MELAYANI MENUJU BEBAS KORUPSI DI KONAWE SELATANBuku ini menyajikan potret pelayanan publik dan pergeseran birokrasi dari yang melayani menjadi pencegahan korupsi. Ditulis berdasarkan hasil penelitian mengungkap kondisi dan fakta pelayanan publik yang dilakukan oleh instansi pemerintah dalam melakukan pelayanan publik. Lebih dari itu, buku ini mengupas selintas ide untuk mengubah format birokrasi yang sekadar melayani menuju bebas korupsi. Dengan menjelaskan aspek-aspek strategis seperti itu, maka buku ini dapat menkjadi rujukan bagi siapa sa

303. Dari Biru hingga Abu-abu

Dari Biru hingga Abu-abuKumpulan karya ini syarat dengan nilai imaji yang berpotensi menjadi sumber penyambung lahirnya inspirasi. Gaya, diksi, larik, dan tipografi telah dikemas dengan kandungan daya ungkap amanat yang dapat menjadi diskripsi jati diri penulis yang tampak sudah memiliki kekuatan memposisikan diri. Semua terpancar pada pribadi Putra, yang senantiasa terbaca sejak awal pertumbuhan karya hingga berbagai prestasi menguatkan makna yang terformulasi dalam kumpulan puisi ini. ( Suyoso M.Pd ) Pergolakan batin, kepekaan sosial, dan suara hati yang melankolis menjadi warna kental dalam kumpulan puisi ini. Kreativitas, daya imajinasi, dan kepekaan sosial yang dimiliki Syahputra Wibowo ibarat setetes air di padang gersang. Sejuk dan memiliki daya dorong motivasi yang kuat untuk berkreasi. ( Rohmad Widiyanto, M.Hum ) Dunia remaja penuh pesona dan angan, begitu juga dengan sosok Syahputra Wibowo. Ia masuk mengarungi perkembangan zaman. Ia masih muda belia tetapi sudah berkarya melalui kumpulan puisi yang luar biasa, sebagai tanda diri menjadi pemerhati bangsa. ( Moliati, S.Pd )

304. Dari Kelam Menuju Terang

Dari Kelam Menuju TerangBuku ini adalah kumpulan puisi tentang bagaimana seseorang melewati masalah dalam hidupnya. Masalah-masalah yang dibahas dalam buku ini, yaitu cinta khususnya cinta terhadap diri sendiri, kebebasan, relasi dengan Tuhan, dan sesama juga masalah-masalah lain yang tidak sempat saya sebutkan di sini. Masalah-masalah tersebut dibahas dalam tiga bab, yaitu kelam, menuju, dan terang di mana ketiga bab ini melambangkan bagaimana seseorang melewati masalah di hidupnya mulai dari ketika ia mendapat masala

305. Dari Kerapatan Qadhi Hingga Pengadilan Agama

Dari Kerapatan Qadhi Hingga Pengadilan AgamaDulu, sebelum lahirnya Pengadilan Agama, masyarakat Banjar lebih akrab dengan istilah Kerapatan Qadhi, sebuah lembaga yang mengurusi sengketa hukum umat Islam di tanah Banjar. Tuan Qadhi adalah sebuah gelar yang disematkan bagi pemutus perkara waktu itu, bahkan sampai sekarangpun gelar itu masih eksis. Namun lambat laun seiring dengan berjalannya waktu lembaga ini bermetamorfosa menjadi lembaga yang disebut dengan Pengadilan Agama. Pengadilan Agama dalam peta perpolitikan hukum di Indonesia mengalami pasang surut. Segala usaha untuk mengkerdilkan peran dan kewenangan lembaga ini terus digulirkan sampai sekarang. Sebagai hukum yang hidup ditengah-tengah masyarakat, hukum Islam dianggap sebagai ancaman bagi Kolonial. Dengan dalih teori Receptie, Snouck Hurgronje mencoba untuk mengikis eksistensi hukum Islam dan menggesernya dengan hukum adat. Pada tahun 1830, Pengadilan Agama ditempatkan dibawah pengawasan Landrad, tak pelak semua putusan yang lahir dari lembaga ini tidak serta merta bisa langsung mengeksekusi putusannya sendiri tapi harus mendapatkan pengukuhan dulu dari Landrad. Politik hukum ini terus berlangsung hingga era kemerdekaan. Pasca kemerdekaan, usaha untuk mempreteli Pengadilan Agama juga masih gencar. Hal ini terlihat dalam UU No 7 tahun 1989 dimana umat Islam masih diberikan hak opsi dalam menyelesaikan sengketa waris. Di era reformasi, wacana untuk menambah kewenangan Pengadilan Agamapun selalu identik dan dikaitkan dengan pendirian negara Islam. Pengadilan Agama selalu dicurigai akan membawa dampak negatif jika porsi kewenangannya terlalu besar sehingga dikh

306. Dari Kompasiana Menuju Istana

Dari Kompasiana Menuju IstanaBuku ini adalah hasil kolaborasi dari Kompasianers yang hadir dalam acara makan siang bersama Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Ditulis oleh penulis yang berasal dari berbagai keragaman: suku, budaya, agama, dan latar belakang pendidikan, serta pengalaman hidup yang berwarna. Buku ini adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan rasa terima kasih kepada Presiden; sekaligus apresiasi untuk Kompasiana, di mana para penulisnya bernaung. Tentu juga sekaligus merupakan apresiasi kepada Kompasia

307. DARI MILAN KE LEVERKUSEN

DARI MILAN KE LEVERKUSENAntologi cerita berlatar Benua Biru. Dimulai dengan tragedi kerusuhan penonton sepakbola disebuah stadion megah di Kota Milan, penyelidikan sebuah bangunan tua nan angker di Kota London, suasana sepi musim dingin di pedalaman Trondheim, perlombaan perahu dayung yang seru di sungai yang membelah Kota Lyon, Sungai Rhone, perjalanan panjang ke pulau pantai berbatu, Ketalinia, tragedi di sebuah jalan sepi di Twello, petualangan musim dingin mendebarkan dengan sepatu luncur di Basel, sampai kejadian aneh di sebuah gang yang sunyi di Kota Leverkusen.

308. Dari Sebuah Senja

Dari Sebuah SenjaSembilan puluh sembilan sajak dalam buku ini adalah sejumlah sajak yang terkumpul sebagai usaha pendokumenta¬sian, ditulis antara 1987—2000. Tidak ada kriteria pemilihan maupun penggolongan yang dipergunakan. Sajak-sajak ini merupakan semacam catatan harian, semacam catatan impresionistik terhadap suasana, peristiwa, atau pemikiran yang kebetulan berkelebat dan tertangkap pena untuk dituangkan menjadi sajak. Ada jarak waktu antara penulisan sajak-sajak tersebut dengan penerbit¬annya. Masing-masing punya proses kelahirannya sendiri-sendiri. Tidak ada satu benang merah pun yang dapat dijadikan pegangan untuk menghimpun sajak-sajak ini ke dalam antologi yang diberi judul Dari Sebuah Senja. Pemberian judul semacam ini hanya sebatas kemunculan yang relatif berulang dalam beberapa sajak. Senja bisa jadi hanya sebuah kenangan atau mungkin sebuah obsesi yang menarik untuk ditangkap dalam sebuah potretan impresi puitis.

309. DARI TELINGA TURUN KE HATI

DARI TELINGA TURUN KE HATI“Apa bener gue cinta ama dia? Ngga mungkin banget. Gue kan benci banget ama dia, lagian dia juga udah punya pacar!” “Apa kurangnya sih si Marcell! Cakep, lulusan Inggris, tajir, pinter dan punya segalanya.” Rara bingung sambil menautkan alisnya. “Apa fisik itu penting? Apa fisik yang bagus bisa melahirkan cinta yang sesungguhnya?” Seribu satu pertanyaan berkecamuk dikepalanya. Akhirnya Rara menemukan cinta sesungguhnya ‘Cinta apa adanya’ hingga Rara tahu arti cinta bagi hidupnya. Siapakah pemuda misterius itu?. Munkinkah Eddy, Marcell atau penyiar radio yang dikaguminya?. **** “Terkadang cinta hadir disaat yang tak tepat. Apakah fisik saja cukup membuat kita bahagia? Justru pasangan yang mengerti diri kitalah yang membuat kita merasa tenang bersamanya. Pengertian dan ketulusan seseorang akan membuat kita merasa cinta itu adalah hal yang paling indah didunia ini.” *****

310. Dari Titik Nol

Dari Titik Nol“Dari Titik Nol: From Zero to Hero” memang benar-benar terjadi dalam hidupku. Selama sekitar 6,5 tahun sebagai insan pasca stroke, Tuhan meremukkanku. Sama sekali tidak bisa apa-apa seperti seorang bayi yang baru lahir, tetapi Tuhan jugalah yang mengangkatku sampai aku menjadi seperti ini. Tuhan menjatuhkan aku dari titik kehidupanku yang tertinggi sebagai seorang manusia berumur 39 tahun yang dalam masa kesuksesan hidup ke titik nol, bahkan titik minus, lalu Tuhan juga yang merenda hidupku kemb

Leutika Leutika 

Wayang  Scanie  mahoni