Katalog Buku
1461. Saatnya Kita Terbang Murah
buku mengenai seluk beluk penerbangan Indonesia1462. Sabda Hati Untuk Negeri
Kumpulan cerpen yang sengaja dipersembahkan untuk negeri tercinta, betapa kemiskinan masih merajai pelosok tanah air.1463. Sajadah di Laut China
Pelaut, anak kapal, sering dipandang sebagai makhluk kasar yang akrab dengan miras dan kehidupan remang-remang, jauh dari kecerdasan intelektual apalagi spiritual. Mengeneralisasi suatu keadaan tentu saja tidaklah tepat. Pada kenyataannya masih ada pelaut yang mampu menjaga kesehatan akal dan hatinya sehingga dapat memandang sisi-sisi kehidupan dengan lebih jernih.
Kehadiran buku ini setidaknya meluruskan, bahwa kerja kreatif olah rasa dan fikiran yang mengandung nilai-nilai keluhuran sesungguhnya bisa muncul dimana saja oleh siapa saja, tanpa memandang apa kesehariannya.
apa yang kita miliki tak membuat kita berbeda
apa yang kita berikan itulah soalnya
berbedalah
tapi jangan berhenti belajar
kegaduhan terjadi dimana-mana
sebab orang sudah merasa pintar --Refleksi
ketika amanat diabaikan
harta benda menjadi murah
kedudukan menjadi rendah --Tahanan
Hati nurani, persaudaraan dimana-mana sama
Nafsu kekuasaan membuatnya berbeda --Empat Tentara Pulang Patroli
rumahku ladangku
danau yang jernih dan tenang
mengundang angsa-angsa
berenang, menghirup kesegaran
cahaya keheningan --Rumahku Ladangku1464. Sajak Air Mata Bunda
Sajakku mewujud dari mata air
Air matamu yang berharap
Sajakku merangkak dari peluh keringatmu yang bermunajat
Berdiri dari nasihat betuah yang berkelebat
Sajakku adalah motivasi yang berpendar ke segala penjuru
Nadi dan sendi perjuangan cita dan cintaku
Kutiriskan semua duka agar kumampu bercerita suka
Kusaring semua beban
Agar kumampu berkisah masa depan
…
(Air Mata Bunda)1465. Sajak Langit Sepi+Maut Sedikit Cinta dan Perempuan
Futuristik
laiknya perjalanan sempurna dan kembali --memesan tiket tamasya
gairah si bodoh
yang kepala sibuk menerka
Adam dan Hawa turun dari langit utara!
mimpi mengalah
tahu si tuan terlena1466. Sajak Talibun Bertirai Nusantara
“Dengan antologi puisi Sajak Talibun Bertirai Nusantara ini, mahasiswa membuktikan masih memiliki jiwa nasionalisme dengan cara yang berbeda. Indahnya kata dalam sajak talibun ini memiliki pesona akan harapan masa depan bangsa.” ( Farahdina Intan Dosen PKn )
“Menyindir dengan tulisan terukir, mengkritik dengan kata yang mengelitik. Sebuah bacaan tentang harapan masa depan, membuat siapa saja manggut-manggut saat mebaca tiap bait sajak.” ( Eko Yulianto Dosen Bahasa )
“Kata-katanya berbaris rapi, makna yang terkandungpun tertata sehingga mudah dicerna, bahkan oleh saya yang tidak mengerti sastra. Hidup Nusantara.” ( Liza Antika Dewi Anggota Paskibra )1467. Sakitnya Membuka Usaha Penitipan Anak
Buku ini membahas secara mendetail mengenai pengalaman penulis dalam membuka usaha penitipan anak. Penulis sama sekali belum berpengalaman membuka bisnis daycare sehingga terjadi banyak kesalahan. Lalu bagaimana sampai akhirnya penulis mampu mengusahakan modal daycare, mencari pengasuh anak yang katanya lebih susah daripada mencari jodoh, mendidik anak di daycare yang berkarakter keras, merawat anak yang sedang sakit, memimpin karyawan, menyiapkan menu yang bergizi, melakukan promosi, mengatur s1468. Sakti dan Sapi Rebo
Kisah penuh makna tentang persahabatan Sakti dan sapi peliharaannya, Rebo...1469. Sakura No Shita Ni
Tak ada perubahan tiap musim semi
Sakuramu tetap berguguran
Aku sudah kembali
Mengingat tarian-tarian Sakuramu
Yang bersama semilir angin menyentuh
Guguran Sakuramu seperti mengirimkan nadanya
Yang membawaku terbang ke angkasa
Bersamamu
Hingga menelanjangi seluruh batin kita1470. Salahkah Bila Dia Ayahku
Senja kian menjelang, matahari semakin bersembunyi di balik gelapnya malam. Ayah Nadia pun pulang, dia disambut dengan muka murung dari Nadia dan muka kesal dari ibu Nadia. Ayah Nadia pun heran dengan kejadian itu, pulang-pulang bukannya disuguhi kopi atau teh, tetapi ini malah dengan wajah yang lain dari biasanya. Ibu Nadia masuk ke dalam kamar, sedangkan Nadia masih tetap duduk di ruang tamu sambil matanya berkaca-kaca. Ayahnya yang melihat kejadian itu langsung menghampiri Nadia. Dia berbicarSebelumnnya [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19] [20] [21] [22] [23] [24] [25] [26] [27] [28] [29] [30] [31] [32] [33] [34] [35] [36] [37] [38] [39] [40] [41] [42] [43] [44] [45] [46] [47] [48] [49] [50] [51] [52] [53] [54] [55] [56] [57] [58] [59] [60] [61] [62] [63] [64] [65] [66] [67] [68] [69] [70] [71] [72] [73] [74] [75] [76] [77] [78] [79] [80] [81] [82] [83] [84] [85] [86] [87] [88] [89] [90] [91] [92] [93] [94] [95] [96] [97] [98] [99] [100] [101] [102] [103] [104] [105] [106] [107] [108] [109] [110] [111] [112] [113] [114] [115] [116] [117] [118] [119] [120] [121] [122] [123] [124] [125] [126] [127] [128] [129] [130] [131] [132] [133] [134] [135] [136] [137] [138] [139] [140] [141] [142] [143] [144] [145] [146] [147] [148] [149] [150] [151] [152] [153] [154] [155] [156] [157] [158] [159] [160] [161] [162] [163] [164] [165] [166] [167] [168] [169] [170] [171] [172] [173] [174] [175] [176] [177] [178] [179] [180] [181] [182] [183] [184] [185] [186] [187] [188] Selanjutnya



