Katalog Buku
1601. Sinetron, Menghibur Diri Sampai Mati
Penonton sinetron kebanyakan bukan berasal dari orang yang berpendidikan tinggi (dari segi ilmu bukan sekadar gelar semata). Mereka inilah penonton yang dieksploitasi oleh tayangan. Dan mereka inilah yang memang tidak mau diajak untuk berpikir kritis. Kelompok ini bisa jadi akan beranggapan bahwa apa yang ditayangan televisi itulah kenyataan sebenarnya. Padahal bukan seperti itu, bukan?
Judul buku ini bisa mempunyai dua arti; pertama, sinetron akan terus menghibur sampai penontonnya bosan sendiri, untuk tak mengatakan mati disebabkan menonton sinetron. Kedua, sinetron hanya bisa dibunuh fungsi menghiburnya kalau televisinya dimatikan.1602. Singa Bauhinia
Buku yang sengaja dibuat untuk Indonesia
- RADAR KEDU, 19 Februari 20111603. SINGAPORE - Arsitektur Perkotaan Aksesibilitas & Fasilitas untuk Disabilitas & Prioritas
Ini adalah buku ke-4 tentang Singapore, di mana aku melakukan perjalanan yang ke sekian kalinya berkeliling Singapore untuk research, merasakan, dan mengamati bagaimana Singapore benar-benar nyaman dan aman bagiku, sebagai disabilitas.
Terima kasih yang tidak terhingga bagi Tuhan YESUS-ku, yang selalu memberikan jalan yang mudah, aman, dan nyaman untuk melakukan apa yang aku ingin ceritakan kepada dunia tentang kebutuhanku sebagai disabiitas di atas kursi roda untuk keliling dunia.
Aku sangat berterima kasih kepada sahabat-sahabatku yang selalu membantuku dari pemesanan hotel di sana, antar jemput serta menemani di saat-saat tertentu ke area-area baru demi aku.
Peluk hangat untuk sahabatku Mas Kardy Chiu dan Andry Halim yang benar-benar tulus membantuku, padahal mereka sibuk dengan segala macam kegiatan mereka dari bekerja dan kegiatan-kegiatan lainnya, tetapi disempatkan luar biasa untukku.
Tidak berlama-lama, silakan membaca buku ini, sebuah hasil research-ku yang kujabarkan dengan bercerita untuk bisa dipahami oleh anak-anak sekalipun.
Salam inspirasi,
Chritie Damayanti
Penulis1604. SINGAPORE - Ketika Metropolitan Itu Peduli 2
Cerita Singapore, sebuah negeri mungil tetangga negara
tercinta kita, masih berlanjut. Pembuktianku tentang
banyak hal tentang Singapore, benar-benar masih berlanjut. Aku
keliling ke Singapore, sudah belasan kali dan itu benar-benar
ingin aku buktikan, bahwa negeri mungil Singapore ini, mampu
membangun negaranya sebagai “tempat tinggal” yang nyaman
dan aman bagi warganya.
Ketika mereka bisa, walau negara kita jauh lebih besar dari
Singapore dengan berbagai masalah heterogen yang tidak bisa
disamakan dengan Singapore, aku yakin sekali, setidaknya negara
kita bisa mengikuti cara mereka untuk membangun negaranya,
lebih nyaman bagi warganya.
Aksesibilitas dan fasilitas-fasilitas bagi warga Singapore,
benar-benar diperhatikan supaya pemerintah bukan hanya
meminta melakukan kewajiban-kewajiban mereka, tetapi juga
pemerintah memenuhi kebutuhan sesuai dengan masingmasing keterbatasannya. Singapore, adalah salah satu yang bisa
memberikan contoh untuk negara kita, dan cukup mudah untuk
membuktikannya karena hanya 1½ jam terbang. Dan, itu akan
terus aku buktikan dan kutuliskan bahwa negara kita pun mampu
untuk membangunnya, untuk kita semua.1605. SINGAPORE - Kota Taman Peduli Disabilitas
Sekali lagi, sebuah buku yang kutulis berhubungan dengan penghargaanku kepada Singapore. Sebuah negeri mungil, di mana aku sangat “iri” dan termotivasi untuk terus mengeksplore semuanya dan menjadi lebih serius tentang pembelajaran dan pemahamanku tentang sebuah KEPEDULIAN.
Pertama, rasa terima kasihku untuk yang keseribu kalinya adalah untuk Tuhan YESUSku. Karena DIA lah, aku tetap bertahan dengan komitmenku untuk terus membangun Indonesia, dengan caraku.
Kedua, siapa lagi kalau bukan sahabat-sahabatku di Singapore dan malaikat-malaikat penjagaku di sana, Mas Kardy Chiu dan Andry Halim. Mereka lah yang terus mengajakku ke mana-mana untuk mengeksplore Singapore, jika mereka punya waktu, tetapi, mereka memang selalu punya waktu untukku.
Tentu saja, terima kasihku untuk semua pihak yang terus memberi dukungan untukku, seorang perempuan setengah baya yang duduk di kursi roda karena tubuh kanan lumpuh karena terserang stroke, tetapi tetap fokus dan berkomitmen untuk membangun dunia, terutama Indonesia, dengan caraku bersama Tuhan.
Salam inspirasi,
Chritie Damayanti
Penulis1606. SINGAPORE Ketika Metropolitan itu Peduli (Arsitektur,Perencanaan Kota & Peduli Disabilitas)
Setelah 2 tahun pandemic mulai berangsur melemah, aku siap traveling lagi keliling dunia lagi. Salah satunya dan pertama kali aku terbang ke luar negeri setelah pandemic adalah ke Singapore.
Terima kasih sekali tuhan Yesusku, ketika selama pandemic ini aku tetap dan selallu sehat, karena Tuhan selalu melindungiku, sehingga aku mampu melewati masa2 sulit dunia melawan pandemic, juga untukku.
Lalu, aku memikirkan bagaimana jika Singapore justru membuat aku sakit, tetapi justru negeri singa ini membuat aku sehat dan excited, bersama dengan Tuhan Yesusku untuk melakukan sebuah mimpi besarku untuk menuliskan beberapa buku bertema “Disabilitas di 4 Benua”, dan ini dimulai dengan Indonesia dan Singapore.
Terima kasih juga, ketika perjalananku ke Singapore untuk survey disabilitapun, memberikan dampak2 positif bagi Indonesia, dan Tuhan pun memberikan seorang “malaikat plindung” untukku, yang selalu membantuku sampai sedetail2n ya di Singapore.
Terima kasih sekali untuk mas Kardy Chiu, seorang malaikat pelindung yang diberikan Tuhan untukku selama aku berada di negeri cantik tersebut.
Dan dalam hitungan beberapa bulan, sebuah buku baru bertema Singapore, Arsitektur dan Disabilitas ini, berhasil diterbitkan! Puji Tuhan Semesta Alam ……
Semoga buku ini memberikan inspirasi bagi banyak orang tentang sbuah kehidupan yang mempunyai banyak jenis manusia, dan kita semua mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga Negara, dan itulah yang aku mau angkat, salah satunya dalam buku ini tentang disabilitas ……1607. Singgah ke Desa Rangkat
Pada tanggal 02 dan 03 Juli 2011 yang lalu, ‘Desa Rangkat’, sebuah komunitas para penulis Kompasiana, telah melaksanakan kopdar pertamanya di Ganjuran, Sumbermulyo, Bambanglipuro Bantul. DI Yogyakarta (di tempat kediaman sesepuh ‘Desa Rangkat’, Bapak E. Astokodatu).
‘Desa Rangkat’ adalah wadah komunitas warga Kompasiana dalam menuangkan segala ide dan imajinasi kreatif akan sebuah desa yang tumbuh kembang bersama rasa Toleransi, Kesamaan, Persaudaraan dan Persahabatan juga rasa Kekeluargaan yang dijunjung tinggi.
‘Desa Rangkat’ merupakan desa yang dibangun dan dibesarkan melalui hati dan rasa dengan prinsip Diskusi Elok Sarat Asah-asih-asuh dalam meRANGkai KATa.
Pertemuan ‘Desa Rangkat’ telah dihadiri oleh dua puluh sembilan warga dari berbagai daerah antara lain dari Jakarta, Depok, Bekasi, Bandung, Semarang, Klaten, Temanggung, Situbondo, Jember, Surabaya, Palembang, Makassar, Gorontalo, Menado dan tuan rumah DI Yogyakarta.
Mengingatkan kita pada semboyan : “A Happiness is When We Make Somebody Else Happy” (Kebahagiaan hakiki adalah pada saat kita mampu membuat orang lain berbahagia). Semboyan tersebut sarat makna filosofis, yang belum tentu dapat dicerna dengan modal kecerdasan saja. Perlu kebersihan hati dan kepekaan rasa, agar kita bisa berbagi dengan sesama.
Maka terbangunglah Desa Rangkat yang awalnya adalah kumpulan RANGkaian KATa, berupa puisi. Kemudian setelah Mommy mengangkatku menjadi Kepala Desa, sekaligus suami dalam setting Desa Rangkat, maka kuusulkan agar Desa Rangkat dijadikan akronim dari Diskusi Elok Sarat Asah-asih-asuh dalam meRANGkai KATa di komp1608. Sintaksis Bahasa Yunani Perjanjian Baru
Buku ini merupakan penyempurnaan bahan ajar mata kuliah bahasa Yunani Perjanjian Baru dengan fokus pada sintaksis sehingga penulis memberi judul buku ini Sintaksis Bahasa Yunani Perjanjian Baru. Sintaksis Bahasa Yunani Perjanjian Baru sangat diperlukan untuk mendalami studi eksegesis Perjanjian Baru. Pembaca akan menemukan berbagai hubungan sintaksis (tata bahasa) antarkata, frasa, dan klausa di dalam sebuah kalimat. Sintaksis menganalisis hubungan tersebut sehingga pemahaman sebuah kalimat atau1609. Sisi-Sisi Manusia
Berbicara tentang manusia adalah berbicara tentang kita. Seperti halnya kisah manusia yang ditulis oleh Defi Ramadhani. Manusia dan budaya nginang, sebuah kebiasaan yang kini makin memudar seiring dengan bergantinya zaman. Nginang adalah kebiasaan yang dilakukan manusia untuk menjaga kesehatan giginya. Tak hanya menjaga kesehatan, nginang ternyata juga mampu memberi sensasi kenikmatan bagi yang rutin melakukannya. Dalam tulisan tersebut, penulis tidak hanya melihat nginang dari perspektif sosial1610. Sisombou Sastra
Buku ini berisi pembahasan tentang salah satu tradisi lisan masyarakat yang mencerminkan keakraban dan persaudaraan. Menguraikan bagaimana tradisi sisombou dilaksanakan dan nilai-nilai apa yang terkandung di dalamnya.Sebelumnnya [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17] [18] [19] [20] [21] [22] [23] [24] [25] [26] [27] [28] [29] [30] [31] [32] [33] [34] [35] [36] [37] [38] [39] [40] [41] [42] [43] [44] [45] [46] [47] [48] [49] [50] [51] [52] [53] [54] [55] [56] [57] [58] [59] [60] [61] [62] [63] [64] [65] [66] [67] [68] [69] [70] [71] [72] [73] [74] [75] [76] [77] [78] [79] [80] [81] [82] [83] [84] [85] [86] [87] [88] [89] [90] [91] [92] [93] [94] [95] [96] [97] [98] [99] [100] [101] [102] [103] [104] [105] [106] [107] [108] [109] [110] [111] [112] [113] [114] [115] [116] [117] [118] [119] [120] [121] [122] [123] [124] [125] [126] [127] [128] [129] [130] [131] [132] [133] [134] [135] [136] [137] [138] [139] [140] [141] [142] [143] [144] [145] [146] [147] [148] [149] [150] [151] [152] [153] [154] [155] [156] [157] [158] [159] [160] [161] [162] [163] [164] [165] [166] [167] [168] [169] [170] [171] [172] [173] [174] [175] [176] [177] [178] [179] [180] [181] [182] [183] [184] [185] [186] [187] [188] Selanjutnya



